Investigasi KLB Diare di Desa Salumpaga Kec. Toli-toli Utara Kab. Toli-toli Tahun 2008

KLB masih sering terjadi di daerah-daerah di wilayah Indonesia. Kejadian ini mempunyai karakter tersendiri karena kejadiannya sangat mendadak, mengenai banyak orang dan dapat menimbulkan kematian yang tinggi bila tidak ditanggulangi dengan segera.

Salah satu penyakit yang masih sering menimbulkan KLB adalah penyakit diare. Tingginya angka kesakitan dan kematian diare disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kesehatan lingkungan yang masih belum memadai, keadaan gizi masyarakat, kependudukan, pendidikan, pengetahuan, sosial ekonomi dan perilaku masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi terjadinya diare.

Berdasarkan hasil pemantauan melalui Surveilans Terpadu Penyakit (STP) kabupaten Tolitoli pada tahun 2007, ternyata penyakit diare menempati urutan ketiga setelah penyakit malaria klinis dan Influensa dengan jumlah kasus sebanyak 4.672 kasus. Kasus yang terjadi di Wilayah Kerja Puskesmas (WKP) Laulalang sebanyak 277 kasus dengan proporsi kasus adalah 5,93 %. Kasus yang terjadi di WKP Laulalang ini sudah cukup mewakili keseluruhan wilayah karena kelengkapan laporan dari Pustu dan Bidan Desa adalah 91,38 % dengan ketepatan laporan adalah 88,79 %.

Kejadian penyakit diare berdasarkan Puskesmas dapat kita lihat pada grafik di bawah ini,

Berdasarkan laporan lisan pengelola program surveilans Puskesmas Laulalang pada tanggal 22 Mei 2008 telah terjadi peningkatan kasus diare di Desa Salumpaga Kecamatan Toli-toli Utara sebanyak 16 kasus dengan 1 kematian. Untuk memastikan kebenaran kasus serta perkembangannya dilakukan kegiatan investigasi serta penanggulangan kasus agar kasus tidak semakin meluas, dengan tujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi kejadian diare yang terjadi di Desa Salumpaga WKP Laulalang Kecamatan Toli-toli Utara Kabupaten Tolitoli.

Lebih khusus lagi, investigasi ini mengarah untuk memastikan apakah kejadian diare di Desa Salumpaga merupakan suatu KLB, untuk mengetahui gambaran epidemiologi yang berkaitan dengan KLB Diare, mengidentifikasi sumber penyebab dan cara penularan diare dan mengidentifikasi faktor risiko kejadian diare.

Penyelidikan ini dilakukan dengan melakukan wawancara pada penderita atau keluarganya dari rumah ke rumah serta menggunakan formulir investigasi pengamatan/observasi terhadap sanitasi lingkungan. Selanjutnya data sekunder diperoleh dari laporan mingguan (W2), laporan penyakit diare, Surveilans Terpadu Penyakit dan Laporan bulanan penyakit (LB1). Selain itu dikumpulkan juga data penunjang yaitu, berupa data umum penduduk, sarana prasarana yang diambil dari kantor desa Salumpaga.

Penyelidikan kasus ini dilakukan oleh Tim Penanggulangan KLB Kabupaten dan Tim Puskesmas selama 4 hari yaitu, tanggal 23 Mei – 26 Mei 2008 dan pemantauan tetap dilaksanakan oleh puskesmas sampai KLB berakhir. Data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan proses editing, dan diolah secara deskriptif dengan bantuan komputer. Untuk mengetahui pola epidemiologi dari KLB diare di Desa Salumpaga Kecamatan Toli-toli Utara, dilakukan penyajian data secara deskriptif dalam bentuk narasi, tabel dan grafik serta dilakukan analisis secara epidemiologi.

Secara umum Kecamatan Tolitoli Utara terdiri dari 7 desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Buol dan Kecamatan Dakopemean serta Laut Sulawesi. Desa Salumpaga terdiri dari 1008 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 4.117 jiwa yang terdiri dari 2000 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan perempuan 2.117 jiwa serta jumlah balita 175 orang (sumber : Kantor Desa Salumpaga).

Fasilitas umum yang ada di Desa Salumpaga antara lain terdapat 1 buah lapangan olah raga, 1 buah sekolah dasar, Puskesmas Pembantu dan Polindes. Tenaga yang operasional di Desa untuk membantu masyarakat di bidang kesehatan sebanyak 2 orang yaitu, petugas Puskesmas pembantu dan Bidan Desa Salumpaga. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di masyarakat diperoleh melalui berbagai sumber antara lain sumur dangkal 20 buah dan yang lainnya menggunakan air sungai sebagai sumber air minum dan air bersih. Sedangkan untuk sarana pembuangan tinja yang tersedia 200 unit /KK (19,84 %) selebihnya menggunakan sungai dan pantai sebagai tempat pembuangan tinja.

Kasus diketahui melalui laporan pisan petugas suveilans Puskesmas Laulalang pada tanggal 22 Mei 2008 bahwa telah terjadi kasus muntah berak dengan jumlah kasus 16 orang dan kematian 1 orang, pada tanggal 24 Mei 2008 dilaksanakan investigasi kasus ke lapangan yang disertai dengan pengobatan penderita. Hasil dari investigasi ini ditemukan 42 penderita dan 2 kasus yang meninggal. Awal kasus terjadi pada tanggal 1 Mei 2008. Kasus yang diinvestigasi ini adalah semua orang yang buang air besar mengalami perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan dapat bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya. Kurun waktu data yang diinvestigasi adalah sampai adanya awal kasus ditemukan dan dilakukan pengamatan secara terus menerus dan ketat sampai batas waktu 2 kali masa inkubasi.

Puncak kasus terjadi pada tanggal 22 Mei 2008 dan kasus yang meninggal terjadi pada tanggal 19 Mei 2008 dan 22 Mei 2008. Untuk melihat apakah suatu kejadian merupakan suatu kejadian luar biasa atau tidak hal ini dapat kita ketahui dari berbagai definisi yang ada antara lain terjadinya peningkatan kasus/kematian yang bermakna dari suatu penyakit atau masalah kesehatan. Dalam kasus ini yang dipakai adalah peningkatan yang bermakna berdasarkan minggu kejadian, serta yang lainnya kasus yang ada dibandingkan dengan rata-rata kasus lima tahun terakhir.

Kasus diare yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Laulalang merupakan suatu KLB hal ini dukung oleh fakta terjadinya peningkatan kasus 2-3 kali dibandingkan dengan minggu yang sama pada tahun sebelumnya serta dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya pada tahun yang sama. Jika kasus yang ada dibandingkan dengan rata-rata kejadian kasus diare di wilayah kerja Puskesmas Laulalang juga terjadi peningkatan kasus diare 2-3 kali nilai rata-rata. Kasus diare yang terjadi di WKP Laulalang pada tahun 2008 sejumlah 277 kasus dengan rata-rata kasus setiap bulannya 23 kasus. Sedangkan kasus diare berdarah 97 kasus dengan rata-rata kasus setiap bulannya 8 kasus (sumber : STP Pusk. Laulalang).

Jika dibandingkan dengan kasus diare pada bulan Mei tahun 2008 dan bulan yang sama dengan tahun sebelumnya terjadi peningkatan kasus 2x, hal ini juga terjadi pada kasus diare berdarah, hal ini jelas sekali mengindikasikan telah terjadi KLB Diare di WKP Laulalang Kec. Toli-toli Utara.

Awal kasus diare muncul pada tanggal 1 Mei 2008 pada salah satu anak berumur 10 bulan dengan gejala muntah-muntah dan berak 6-10 kali dalam sehari, dan kasus lain muncul setelah 10 hari berikutnya, semenjak saat itu kasus setiap hari bermunculan. Berdasarkan minggu kejadian kasus yang pertama muncul pada mingu ke-18, peningkatan kasus yang bermakna pada mingu ke-20 serta puncak kasus terjadi pada mingu ke-21 dan mengalami penurunan tajam yang pada akhirnya minggu ke-24 kasus sudah tidak ada.

Setelah melalui pemantauan yang dilakukan terus menerus selama dua kali masa inkubasi terpanjang penyakit diare diperoleh total kasus 49 kasus dimana 42 kasus telah terdeteksi dan di investigasi pada saat terjadinya KLB. Sisa kasus muncul pada minggu ke-22 sebanyak 6 kasus serta pada minggu ke-23 ada 1 kasus dan tidak ada kasus lagi pada minggu berikutnya. Jadi KLB berakhir di Desa Salumpaga Kec. Tolitoli Utara pada minggu ke-23 karena setelah minggu tersebut dipantau terus sampai 2 minggu berikutnya sudah tidak ada kasus diare yang muncul.

Keluhan lanjutan dialami penderita diare di Desa Salumpaga Kec. Tolitoli Utara adalah seperti muntah, berak, demam dan keluhan lainnya. Berdasarkan gejala yang ada maka diare yang terjadi merupakan diare akut diare persisten, serta sebaran kasus diare berdasarkan kelompok umur tidak merata, kelompok umur yang paling banyak terserang adalah > 5 tahun (25 kasus) dengan proporsi 59,52 %, sedangkan kasus yang paling sedikit terjadi pada kelompok umur kurang dari 1 tahun (5 kasus) dengan proporsi 11,90 %.

Besarnya Angka serangan berdasarkan kelompok umur yang tertinggi pada kelompok umur bayi (20 %), pada kelompok umur 1-4 tahun 6,86 % sedangkan pada kelompok umur lebih besar dari 5 tahun 1,98 %, sedangkan jumlah kematian adalah 2 orang terjadi pada bayi 1 orang dan lanjut usia 1 orang. Kematian karena diare ini terjadi pada kelompok rentan atau resiko tinggi, yaitu pada bayi dan usia lanjut.

Kepemilikan jamban keluarga di Desa Salumpaga sangat kecil hanya 19,84 % selebihnya masyarakat menggunakan pantai dan sungai sebagai tempat pembuangan tinja. Hal ini jelas mencemari air dan tanah yang ada disekitarnya. Keadaan ini menggambarkan perilaku masyarakat yang kurang kondusif terhadap kesehatan, jika perilaku ini tidak diwaspadai maka masalah yang sama tetap akan uncul di Desa Salumpaga sebagaimana hal yang sama terjadi pada Bulan Juli 2006 dengan kasus awal pada tanggal 26 Juni 2006 dan berakhir pada tanggal 27 Juli 2006 dengan jumlah kasus 17 orang (AR 0,42 %) dan kematian 1 orang (CFR 5,88 %).

Secara umum masyarakat menggunakan sarana pembuangan tinja yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. Jika dekat dengan pantai maka masyarakat menggunakan pantai, jika dekat dengan sungai menggunakan sungai sedangkan yang jauh dari pantai dan sungai menggunakan kebun sebagai tempat pembuangan tinja. Bagi masyarakat yang sudah mempunyai pemahaman akan manfaat jamban keluarga mereka menggunakan jamban keluarga sebagai tempat pembuangan tinja. Sedangkan air bersih sebagai sumber air minum diperoleh melalui berbagai sumber antara lain PAM atau perpipaan 13 orang (30, 95 %), sungai 20 orang (47,62 %), sumur gali 7 orang (16,67 %) dan lain-lain 2 orang (4,76 %).

Upaya-upaya yang dilakukan dalam penanganan dan penanggulangan kejadian luar biasa diare di Desa Salumpaga adalah memberikan penyuluhan secara individu pada saat investigasi kasus, penyuluhan secara umum kepada masyarakat. Memberikan pengobatan kepada semua penderita diare dan perkembangan kasus dipantai secara ketat sampai kasus berakhir.

Untuk itu dapat disimpulkan bahwa kejadian diare di Desa Salumpaga Kec. Tolitoli Utara merupakan suatu Kejadian Luar Biasa, jumlah penderita 42 orang dengan angka serangan pada saat KLB 2,49 %, dengan jumlah kematian 2 orang serta case fatality rate (CFR=2,41 %), kasus yang paling muda usia 8 bulan dan usia yang paling tua 75 tahun dengan kelompok umur yang paling banyak terserang adalah > 5 tahun (25 kasus) dengan proporsi 59,52 % sedangkan besarnya angka serangan pada semua kelompok umur adalah 1,98 % dengan CFR 4,76 % dan KLB berawal pada tanggal 1 Mei 2008 (minggu ke-18) dan berakhir pada minggu ke-23 tahun 2008.

Karena kasus diare sering ditemukan di Desa Salumpaga serta untuk memperkecil kasus dan mencegah hal yang sama berulang kembali, maka ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dan dilaksanakan antara lain :

  1. Terus menerus memberikan penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada anak sekolah dan masyarakat.
  2. Mengolah air yang ada dengan saringan pasir cepat atau lambat, kemudian sebelum air digunakan untuk air minum harus dimasak terlebih dahulu.
  3. Semua masyarakat sebaiknya membuang tinja di septik tang agar terhindar dari pencemaran lingkungan oleh mikroba patogen.
  4. Kaporisasi pada sumur-sumur yang digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air minum dan air bersih.
  5. Agar lintas program dan lintas sektor memikirkan teknologi sederhana untuk mengolah air sungai menjadi sumber air bersih bagi masyarakat.

Comments are closed.