GIZI

Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan individu, karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah  penyakit infeksi,  juga dapat  menyebabkan  terjadinya  gangguan kesehatan, bahkan status gizi janin yang masih berada   dalam  kandungan  dan  bayi  yang  masih menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil dan ibu menyusui.

Status gizi masyarakat dapat diukur melalui indikator-indikator yaitu status gizi bayi yang diukur dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), sebagaimana diuraikan berikut ini.
a.    Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
Secara umum, Propinsi Sulawesi Tengah belum mempunyai angka untuk BBLR yang diperoleh berdasarkan survei. Pada tahun 2007 proporsi BBLR diketahui berdasarkan laporan dari program yang melaporkan kasus BBLR dengan jumlah 537 kasus dan yang ditangani 439 (81,75%). Gambaran kasus BBLR dari kab/kota disajikan pada lampiran Tabel 15.

b.    Gizi Balita
Dari hasil pemantauan status gizi (PSG) selama tahun 2007 dari 30.817 Balita yang di ukur terlihat bahwa 1.624 (5,3%) yang mengalami gizi buruk, 6.241 (20,3%) gizi kurang, 21.234 (68,9%) gizi baik dan 615 (2%) balita yang mempunyai gizi lebih.

c. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
Prevalensi GAKY di Provinsi Sulawesi Tengah selama kurun waktu 5 tahun terakhir telah mengalami penurunan sebesar 34 % dari keadaan sebelumnya yaitu 16,5% pada tahun 1998 menjadi 10,8% pada tahun 2003, sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan angka rata-rata nasional yaitu 11%. Pada tahun 2007 belum terseda data mengenai GAKY.

Walaupun secara provinsi terjadi penurunan prevalensi GAKY, namun keadaan ini belum merata untuk semua kabupaten, seperti terlihat pada tabel diatas, penurunan prevalensi GAKY tidak terjadi di kabupaten Poso, malahan cenderung meningkat dari keadaan sebelumnya yaitu dari 21,77% menjadi 27,1%.