Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Analisis Keberadaan Kader Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) Terhadap Revitalisasi Posyandu di Sulawesi Tengah

Jumat, Maret 13th, 2009

Fokus penelitian keberadaan kader di POSYANDU sebagai salah satu sistem penyelenggaraan pelayanan kebutuhan kesegatan dasar dalam rangkan peningkatan SDM, khususnya bayi/balita yang rentan dengan penyakit kurang gizi/lumpuh layu, cacingan, diare dan ISPA. Selain itu agar POSYANDU dapat melaksanakan fungsinya, maka perlu upaya-upaya recitalisasi fungsi dan kinerjanya yang selama ini belum menunjukkan hasil yang optimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pengguna (user) POSYANDU. Keberadaan POSYANDU dengan 5 (lima) kegiatannya yang dikenal dengan Panca Krida POSYANDU yakni Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), Imunisasi, Peningkatan Gizi dan Penanggulangan Diare. Kelima kegiatan yang dimaksud disebut juga pelayanan 5 (lima) meja, yaitu Meja 1 : pendaftaran oleh kader POSYANDU, Meja 2 : penimbangan balita oleh kader POSYANDU, Meja 3 : pencatatan hasil penimbangan oleh kader POSYANDU, Meja 4 : penyuluhan oleh kader POSYANDU dan petugas kesehatan, dan Meja 5 : imunisasi dan pemeriksaan ibu hamil oleh petugas kesehatan.

(more…)

Beri Pelayanan Rujukan Dokter Spesialis

Jumat, Maret 13th, 2009

Upaya pelayanan yang dilakukan oleh Sub Dinas Bina Pelayanan Medik Dinkes Prov Sulteng saat ini terus digalakkan, hal ini tunjukkan dengan pemberian pelayanan rujukan dokter spesialis ke daerah-daerah khususnya yang belum mempunyai dokter spesialis.

Kasubdin Bina Pelayanan Medik Dinkes Prov Sulteng Nurdjannah Badjeber, SKM, mengatakan pelayanan rujukan dokter spesialis ke daerah-daerah, diharapkan menjadi solusi dalam memenuhi kekurangan dokter di Provinsi Sulawesi Tengah.

Pelayanan rujukan dokter spesialis ini murni dilakukan oleh Dinkes Prov Sulteng dengan pembiayaan sepenuhnya di tanggung oleh Dinkes Prov Sulteng. Bagi masyarakat yang mendapatkan pelayanan rujukan dokter spesialis ini, tidak dipungut biaya, seluruh biayanya dibebankan kepada Dinkes Prov Sulteng. Kegiatan ini digelar dalam rangka memenuhi kekurangan dokter spesialis di Sulteng ungkap Nurdjannah.

Beliau juga menegaskan bahwa di tahun 2008 Dinkes telah menggelar pelayanan rujukan dokter spesialis di sejumlah deerah diantaranya Kabupaten Morowali, Tojo una-una dan Banggai Kepulauan untuk bedah mulut dan THT. Kabupaten Parigi Moutong, Morowali dan Poso untuk dokter spesialis jantung dan syaraf. Program ini dilaksanakan rutin dalam setiap tahun sekali tambahnya.

Selain pelayanan rujukan dokter spesialis Subdin Bina Pelayanan Medik juga mengembangkan program kerjasama dengan BKKBN Sulawesi Tengah. Khususnya untuk pelayanan kontrasepsi Mantap, Tubektomi dan Vasektomi, untuk pelyanan ini Dinkes Prov Sulteng menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan secara teknis kepada BKKBN sedangkan Dinkes sendiri hanya menyediakan bantuan dana. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia Sehat dengan salah satu indikatornya menurunya angka kematian ibu dan bayi.

Secara internal upaya lain diantaranya melakukan upaya peningkatan mutu layanan kesehatan pada rumah sakit dan puskesmas. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka saat ini Dinkes telah berupaya memperjuangkan 2 rumah sakit untuk medapatkan sertifikasi ISO yakni RS Madani Palu dan RSU Anutapura.

Sedangkan untuk puskesmas saat yang telah mendapatkan ISO diantaranya Puskesmas Birobuli Palu, Puskesmas Lawanga Poso dan Puskesmas Donggala. Tidak hanya itu pelayanan bagi masyarakat terpencil juga menjadi perhatian dari Subdin Bina Pelayanan Medik dengan memberikan bantuan berupa pengobatan gratis dan pemberian pasta gigi kepada masyarakat terasing. Hal ini dilakukan agar masyarakat terasing juga terbiasa dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Angka Penyakit Menular di Sulawesi Tengah Masih Tinggi

Jumat, Maret 13th, 2009

Angka penyakit menular di Sulawesi Tengah masih tergolong tinggi, khususnya di sejumlah daerah penyakit menular seperti Diare dam Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi peningkatan kasus. Olehnya itu, masyarakat diminta waspada khususnya dimusin penghujan dan lebih khusus lagi pada musim pancaroba.

“Pada musim-musim penghujan, memang ada beberapa penyakit menular yang kasusnya meningkat. Seperti DBD, Diare dan Malaria. Berdasarkan data, hal ini biasanya terjadi pada akhir Januari dan awal Februari, serta akhir Nopember dan Awal Desember, kasusnya pasti meningkat karena musim pancaroba” jelas Kasubdin Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dr. Ida Bagus Yadnya Putra.

Sayangnya data tersebut menjadi tidak tepat karena pada awal Nopember saat ini telah terjadi peningkatan kasus DBD, khususnya di Kabupaten Poso dan Kota Palu. Untuk itu diharapkan masyarakat agar membiasakan perilaku Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk melakukan pola 3 M (Mengubur, Menguras dan Menutup) juga meningkatkan pemberian Abatesasi.

“Dalam satu tahun terakhir ini, penyakit diare, keracunan dan DBD, memang agak meningkat. Bahkan terjadi beberapa kasus KLB keracunan seperti di Banggai dan beberapa peningkatan kasus DBD di beberapa Kabupaten lain, seperti Kabupaten Tojo Una-una, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Toli-toli:, sahut Kasubdin Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.

Saat ini Penyakit Rabies yang juga masih pada tingkat yang menghawatirkan. Namun demikian, pihaknya telah bekerjasama dengan Dinas Peternakan khususnya untuk urusan hewannya. Sedangkan yang dinyatakan positif, telah diberikan vaksinasi, dengan terlebih dahulu dilakukan pencucian pada lukanya.

Begitupun dengan penyakit Malaria, intensitas dan peningkatannya juga cukup tinggi. Kasusnya terjadi di Kabupaten Toli-toli dan Kabupaten Buol. Sedangkan penyakit Filariasis (kaki gadjah) itu juga khususnya sangat meningkat. Seperti yang terjadi di Kabupaten Parigi Moutong dam Kabupaten Donggala. Namun untuk kasus tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota telah melakukan pengobatan massal.

“Dua penyakit ini penularannya juga melalui nyamuk. Sehingga kepada masyarakat, diminta untuk menjaga diri dari gigitan nyamuk khususnya pada waktu-waktu tertentu, misalnya kalau menonton TV dan keluar malam harus menggunakan baju, tegas dr. Ida Bagus Yadnya Putra.

Dua Ratus Enam Puluh Enam Ribu Penduduk Kabupaten Parigi Moutong Minum Obat Anti Kaki Gajah/Filariasis

Jumat, Maret 13th, 2009

Artikel berikut ini merupakan kontribusi dari penanggungjawab Program Filariasis Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong Sdr. Sunardi, SKM. MKM.

Ada yang Istimewa pada puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44 di Kabupaten Parigi Moutong, yang diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2008 di halaman Kantor Bupati Parigi Moutong. Pada peringatan HKN ini dirangkaikan juga dengan pencangangan Pengobatan Massal Penyakit Filariasis/Kaki Gajah. Sasaran pengobatan massal ini bagi semua penduduk Kabupaten Parigi Moutong yang berusia 2 tahun keatas, kecuali kelompok tertentu yang ditunda pengobatanya seperti anak kurang 2 tahun, ibu yang sedang hamil/menyusui, orang yang sedang sakit berat, Penderita kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut dan balita dengan marasmus/kwashiorkor (Gizi Buruk).

Pencangan ini di tandai dengan minum obat bersama berupa DEC, Albendazole dan Paracetamol oleh Bupati, Wakil Bupati Parigi Moutong, Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong beserta Anggotanya dan Jajaran Muspida Kabupaten Parigi Moutong. Tidak hanya petinggi Kabupaten Parigi Moutong pada kesempatan ini juga ikuti oleh seluruh Pagawai Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (peserta upacara) sebanyak 1926 orang.

(more…)