<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Dinas Kesehatan Prov Sulteng</title>
	<atom:link href="http://sulteng.surveilans-respon.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sulteng.surveilans-respon.org</link>
	<description>Pelayanan Informasi Suveilans Respons</description>
	<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 03:18:35 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kunjungi Weblog Surveilans Respon Kami</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/14/dalam-proses-posting/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/14/dalam-proses-posting/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 06:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[Berhubung aktifitas keseharian di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, disamping perbaikan pada situs web Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, saat ini isi artikel dalam web ini dalam proses posting informasi, namun beberapa informasi telah kami sajikan dengan sederhana. Anda dapat memanfaatkan informasi yang telah kami sediakan dengan memilih halaman pada widget sebelah kanan.
Terima kasih, harap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/a.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-843" src="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/a-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a>Berhubung aktifitas keseharian di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, disamping perbaikan pada situs web Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, saat ini isi artikel dalam web ini dalam proses posting informasi, namun beberapa informasi telah kami sajikan dengan sederhana. Anda dapat memanfaatkan informasi yang telah kami sediakan dengan memilih halaman pada widget sebelah kanan.</p>
<p style="text-align: justify">Terima kasih, harap dimaklumi.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><strong>Surveilans Respon KIA Sulawesi Tengah</strong></p>
<p style="text-align: justify">Angka kematian ibu sesuai MDGs dengan target tahun 2010 sebesar 226 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara kasus kematian di Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2008 sebanyak 111 kasus, untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik dibawah ini :</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/kia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-861" src="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/kia.jpg" alt="" width="500" height="799" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/14/dalam-proses-posting/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Investigasi KLB Keracunan Pangan di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/investigasi-klb-keracunan-pangan-di-desa-pohi-kecamatan-luwuk-timur-kabupaten-banggai/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/investigasi-klb-keracunan-pangan-di-desa-pohi-kecamatan-luwuk-timur-kabupaten-banggai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 11:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=894</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian luar biasa (KLB) Keracunan pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi makanan dan berdasarkan analisis epidemiologi, makanan tersebut terbukti sebagai sumber penularan. Penyelidikan KLB keracunan makanan adalah serangkaian yang dilakukan secara sistematis terhadap KLB keracunan pangan untuk mengungkap penyebab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/kab-banggai2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-898" src="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/kab-banggai2.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a>Kejadian luar biasa (KLB) Keracunan pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi makanan dan berdasarkan analisis epidemiologi, makanan tersebut terbukti sebagai sumber penularan. Penyelidikan KLB keracunan makanan adalah serangkaian yang dilakukan secara sistematis terhadap KLB keracunan pangan untuk mengungkap penyebab, sumber dan cara pencemaran serta distribusi KLB menurut variabel tempat, orang dan waktu.</p>
<p align="justify">Upaya penanggulangan dan pencegahaan meluasnya kejadian keracunan pangan serta untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali, juga untuk mengindentifikasi penyebab kejadian perlu mendapatkan perhatian dan pemecahan yang serius. hal ini menjadi sangat penting karena selain untuk menentukan penyebabnya juga untuk menghindari semakin meluasnya peristiwa kejadian keracunan pangan. Kejadian Luar Biasa keracunan pangan pada umumnya terjadi pada suatu keadaan dimana orang secara bersamaan atau hampir bersamaan pada waktu yang sama terpapar dengan jenis makanan atau minuman tertentu.</p>
<p align="justify">
<p><span id="more-894"></span></p>
<p align="justify">Pada tanggal 14 Februari 2008 Dinas kesehatan menerima laporan dari Puskesmas Hunduhon. Bahwa terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Hunduhon. Jumlah penderita sebanyak 10 orang tanpa disertai dengan kasus kematian (CFR= 0%). Dengan Gejala yaitu mual, muntah, pusing, sakit kepala, badan lemas, pucat, ganggguan melihat dimana penderita tersebut  telah mengkonsumsi makanan Opa, sejenis umbi-umbian yang dimasak dengan gula aren (gula merah) pada waktu kegiatan gotong royong menanam di perkebunan salah seorang warga Desa Pohi Semua kasus yang mendapatkan pengobatan di Puskesmas sekitar jam 10.30–13.00 selanjutnya  penderita tersebut dirujuk ke RSUD Luwuk pada jam 14.00.</p>
<p align="justify">Untuk memperoleh informasi penyebab kejadian serta mengkonfirmasikan apakah terjadi KLB keracunan pangan maka dilakukan penyelidikan pada hari itu juga tanggal 14 Februari 2008 oleh Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai bekerja sama dengan Puskesmas Hunduhon.</p>
<p align="justify">Penyelidikan ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi masalah KLB Keracunan pangan di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai. Disamping itu secara khusus bertujuan untuk melakukan konfirmasi KLB Keracunan Pangan</p>
<ul>
<li>
<div>Mendiskripsikan KLB Keracunan pangan berdasarkan variabel epidemiologi (waktu, tempat, dan orang.</div>
</li>
<li>
<div>Mengidentifikasi penyebab kejadian keracunan pangan</div>
</li>
</ul>
<p align="justify">Pengumpulan data primer diperoleh melalui investigasi langsung kepada penderita dan keluarga penderita dengan melakukan wawancara melalui pengisian kuesioner. Selain itu dept interview terhadap tuan rumah yang mengelola bahan makanan agar dapat diporolehnya informasi tentang tata cara penyediaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan hingga proses penyajiannya.</p>
<p align="justify">Data yang diperoleh dideskripsikan menurut variabel epidemiologi (waktu, tempat, dan orang) serta disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi. Penyelidikan dilakukan selama 5 hari sejak tanggal 14 Februari sampai dengan tanggal 19 februari 2008.</p>
<p align="justify">Keracunan pangan merupakan istilah yang digunakan untuk penderita yang sakit karena mengkonsumsi makanan / minuman yang telah terkontaminasi bakteri atau zat kimia/logam berat. Kejadian Luar Biasa keracunan pangan adalah suatu penyakit yang biasanya terjadi sesudah mengkonsumsi makanan /minuman yang sudah terkontaminasi dalam jangka waktu yang relatif singkat. Gejala dan masa inkubasi dari keracunan pangan sangat bergantung pada jenis penyebab keracunan pangan, namun pada umumnya gejala-gejala yang nampak seperti mual, muntah, pusing, dan sakit perut.</p>
<p align="justify">Hasil investigasi terhadap proses kejadian yang berlangsung sangat cepat dan jumlah penderta yang cukup banyak, disertai dengan kemiripan gejala antara satu dengan yang lain. Berdasarkan laporan kejadian wabah Puskesmas Hunduhon, telah terjadi KLB keracunan pangan di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur pada tanggal 14 Februari 2008.</p>
<p align="justify">Berdasarkan laporan yang diterima Dinas Kesehatan dari Puskesmas Hunduhon dan hasil investigasi ditemukan 10 penderita dengan gejala klinis penderita seperti tampak pada tabel berikut :</p>
<p align="center">Distribusi penderita Keracunan Pangan Menurut Gejala Klinis<br />
Di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur, Februari 2008</p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 40.85pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext;padding: 0cm 5.4pt;width: 23.05pt" width="31" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">No </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 102.55pt" width="137" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Gejala Klinis </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 98.6pt" width="131" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Jumlah penderita </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 87.65pt" width="117" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Prosentasi </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">N = 10 </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 23.05pt" width="31" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">1 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">2 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">4 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">5 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">6 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">7 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 102.55pt" width="137" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Mual – mual </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Muntah </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Sakit Kepala </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Pusing </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Lemas </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Pucat </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Gangguan melihat </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 98.6pt" width="131" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">8 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">8 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">9 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">9 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">4 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 87.65pt" width="117" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">100 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">100 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">80 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">80 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">90 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">90 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">40 </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify">Gejala klinis utama yang dialami oleh penderita adalah mual  dan muntah (100%), Lemas dan pucat (900 %) serta sakit kepala dan pusing (80 %). Dari 10 penderita yang ditemukan semuanya memenuhi kriteria diagnosa keracunan pangan.</p>
<p align="justify">Kasus awal terjadi kurang lebih 5 menit setelah mengkonsumsi kolak ubi, dengan jumlah penderita 2 orang. Selanjutnya disusul dengan kasus–kasus lainya dengan interval waktu yang berbeda–beda, dimana kasus terakhir terjadi kurang dari 15 menit dari kasus awal seperti kasus awal, seperti terlihat pada tabel berikut :</p>
<p align="center">Distribusi Keracunan Pangan menurut Masa Inkubasi<br />
Di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur, Februari 2008</p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 19.6pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext;padding: 0cm 5.4pt;width: 1cm" width="48" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">No </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 106.3pt" width="115" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Masa Inkubasi (Menit) </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 95.8pt" width="146" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Jumlah Penderita </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 98.75pt" width="131" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Prosentasi (N = 10) </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 1cm" width="48" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">1 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">2 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">4 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 106.3pt" width="115" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">5 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">15 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">20 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 95.8pt" width="146" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">2 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">4 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">1 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 98.75pt" width="131" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">20 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">40 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">30 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify">Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa ada 4 penderita mengalami sakit 10 menit setelah mengkonsumsi kolak ubi (40%), 1 Penderita (10 %) setelah 20 menit.</p>
<p align="justify">Penderita KLB Keracunan pangan adalah orang-orang yang mengkonsumsi kolak ubi pada waktu kegiatan gotong royong yang menanam dikebun salah seorang warga, keseluruhan penderita makan dan minum di kebun (100%). Penderita keracunan pangan yang ditemukan selama masa investigasi sejumlah 10 kasus dengan rincian sebagai berikut :</p>
<p align="center">Distribusi penderita keracunan pangan menurut Golongan Umur<br />
Di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur, Februari 2008</p>
<table class="MsoNormalTable" style="border: medium none;margin-left: 5.4pt;width: 361.95pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="483">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext;padding: 0cm 5.4pt;width: 1cm" width="46" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">No </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 99.25pt" width="95" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Golongan Umur (Tahun) </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 3cm" width="142" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Jml penduduk yang makan </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 63.8pt" width="92" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Jumlah Penderita </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 85.5pt" width="108" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Attack Rate(%) </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 1cm" width="46" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">1 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">2 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 99.25pt" width="95" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">30 – 39 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">40 – 49 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">50 – 60 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: justify"><span style="font-size: 10pt">Jumlah </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 3cm" width="142" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">4 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 63.8pt" width="92" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">3 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">4 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 85.5pt" width="108" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">30 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">30 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">40 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: right" align="right"><span style="font-size: 10pt">100 </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify">Pada tabel diatas terlihat bahwa frekuensi tertinggi penderita keracunan pangan terdapat pada golongan umur 50-60 tahun (4 Kasus) dan umur 30-39 (3 kasus ) 40-49 (3 Kasus). Hal ini terjadi karena seluruhnya yang mengkonsumsi kolak ubi merupakan orang yang bekerja secara gotong royong. Attack rate tertinggi terdapat pada golongan umur 50-60 tahun (40%) dan golongan umur 30-39 tahun, 40-49 tahun (30%).</p>
<p align="center">Distribusi penderita keracunan pangan menurut jenis kelamin<br />
Di Desa Pohi kecamatan Luwuk Timur, Februari 2008</p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 19.6pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext;padding: 0cm 5.4pt;width: 35.45pt" width="47" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">No </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 92.1pt" width="123" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Jenis kelamin </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 78pt" width="104" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Jlh yang makan </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 66.2pt" width="88" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Jumlah penderita </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 59.7pt" width="80" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Attack Rate (%) </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 35.45pt" width="47" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">1 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">2 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 92.1pt" width="123" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Laki-laki </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Perempuan </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">Jumlah </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 78pt" width="104" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">1 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">9 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 66.2pt" width="88" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">1 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">9 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt;width: 59.7pt" width="80" valign="top">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">10 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">90 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm;text-align: center" align="center"><span style="font-size: 10pt">100 </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify">Pada tabel diatas terlihat bahwa frekuensi perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki (10%), meskipun jenis makanan yang dikonsumsi pada umumnya sama. Dari 10 penderita yang mengalami keracunan pangan, setelah mengkonsumsi kolak ubi, semuanya merupakan penduduk di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai yang berprofesi sebagai petani.</p>
<p align="justify">Untuk memastikan penyebab KLB keracunan pangan tersebut telah telah dilakukan pemeriksaan sampel pangan yang berasal dari sisa kolak ubi dan air minum yang dikirim ke Balai Pengawas Obat dan Makanan Palu dan Laboratorium Kesehatan Palu. Hasil pemeriksaan Laboratorium Terhadap sampel pangan menyimpulkan tdak ditemukan bahan berbahaya dalam makanan tersebut, serta menunjukan hasil negative terhadap pestisida (Golongan Organo Chlor, Organik Posphat, Carbamat), Kimia (nitrit &amp; Siandida).</p>
<p align="justify">Sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Desa Pohi mengkonsumsi kolak Ubi yang bahan pokoknya Ubi Opa pada waktu kegiatan gotong royong menanam di kebun sebagai sarapan pagi sebelum melakukan kerja gotong royong. Namun pada tanggal 14 Februari 2008, masyarakt Desa Pohi menjadi gempar karena masyarakat yang melakukan kegiataan gotong royong tersebut mengalami muntah-muntah, pusing, dan beberapa gejala klinis lainya.</p>
<p align="justify">Kejadian ini terjadi diduga setelah masyarakat mengkonsumsi kolak ubi yang disajikan. Ubi Opa yang telah di olah menjadi kolak ubi diduga kuat menjadi penyebab keracunan pangan oleh karena ubi Opa tersebut mengandung zat sianida yang sangat tinggi. Kejadian yang berlangsung sangat cepat dan bersamaan, menyerang orang banyak dengan gejala yang mirip/sama, menguatkan telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan makanan di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai.</p>
<p align="justify">Memperhatikan kurva epidemik yang menunjukan masa inkubasi berkisar antara 5-20 menit, puncak kasus terjadi 10 menit setelah penderita mengkonsumsi kolak ubi, serta gejala klinis yang dialami penderita seperti mual, muntah, sakit kepala, pusing, lemas, pucat dan gangguan penglihatan hal ini memperkuat dugaan penyebab KLB adalah keracunan sianida pada Ubi.</p>
<p align="justify">Untuk itu dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya dari aspek klinis dan epidemiologis telah terjadi KLB keracunan pangan di Desa Pohi Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai. Jumlah penderita sebanyak 10 orang dengan attack rate (AR = 100%) tanpa adanya kematian (CFR = 0%). Puncak kasus terjadi 10 menit setelah mengkonsumsi kolak ubi tersebut  (40 %).  Tindakan penanggulangan telah dilaksanakan dengan melakukan pengobatan terhadap penderita baik di Puskesmas Hunduhon maupun di RSU Luwuk dan Investigasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai bersama dengan Tim Puskesmas Hunduhon.</p>
<p align="justify">Tim Investigasi menyarankan peningkatan peran serta masyarakat dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) terutama dalam pelaporan ke jajaran kesehatan, sehingga prosedur penanggulangan dan penanganan segera dilakukan. Serta perlunya pembinaan yang berkesinambungan dalam hal mengolah makanan bagi masyarakat yang sehat dan hygienis sehingga tidak terjadi keracunan pangan di masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/investigasi-klb-keracunan-pangan-di-desa-pohi-kecamatan-luwuk-timur-kabupaten-banggai/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Investigasi KLB Diare di Desa Salumpaga Kec. Toli-toli Utara Kab. Toli-toli Tahun 2008</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/investigasi-klb-diare-di-desa-salumpaga-kec-toli-toli-utara-kab-toli-toli-tahun-2008/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/investigasi-klb-diare-di-desa-salumpaga-kec-toli-toli-utara-kab-toli-toli-tahun-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 09:31:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[KLB masih sering terjadi di daerah-daerah di wilayah Indonesia. Kejadian ini mempunyai karakter tersendiri karena kejadiannya sangat mendadak, mengenai banyak orang dan dapat menimbulkan kematian yang tinggi bila tidak ditanggulangi dengan segera.
Salah satu penyakit yang masih sering menimbulkan KLB adalah penyakit diare. Tingginya angka kesakitan dan kematian diare disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kesehatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/diare.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-887" src="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/diare.jpg" alt="" width="194" height="181" /></a>KLB masih sering terjadi di daerah-daerah di wilayah Indonesia. Kejadian ini mempunyai karakter tersendiri karena kejadiannya sangat mendadak, mengenai banyak orang dan dapat menimbulkan kematian yang tinggi bila tidak ditanggulangi dengan segera.</p>
<p align="justify">Salah satu penyakit yang masih sering menimbulkan KLB adalah penyakit diare. Tingginya angka kesakitan dan kematian diare disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kesehatan lingkungan yang masih belum memadai, keadaan gizi masyarakat, kependudukan, pendidikan, pengetahuan, sosial ekonomi dan perilaku masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi terjadinya diare.</p>
<p align="justify"><span id="more-819"></span>Berdasarkan hasil pemantauan melalui Surveilans Terpadu Penyakit (STP) kabupaten Tolitoli pada tahun 2007, ternyata penyakit diare menempati urutan ketiga setelah penyakit malaria klinis dan Influensa dengan jumlah kasus sebanyak 4.672 kasus. Kasus yang terjadi di Wilayah Kerja Puskesmas (WKP) Laulalang sebanyak 277 kasus dengan proporsi kasus adalah 5,93 %. Kasus yang terjadi di WKP Laulalang ini sudah cukup mewakili keseluruhan wilayah karena kelengkapan laporan dari Pustu dan Bidan Desa adalah 91,38 % dengan ketepatan laporan adalah 88,79 %.</p>
<p align="justify">Kejadian penyakit diare berdasarkan Puskesmas dapat kita lihat pada grafik di bawah ini,</p>
<p align="justify">Berdasarkan laporan lisan pengelola program surveilans Puskesmas Laulalang pada tanggal 22 Mei 2008 telah terjadi peningkatan kasus diare di Desa Salumpaga Kecamatan Toli-toli Utara sebanyak 16 kasus dengan 1 kematian. Untuk memastikan kebenaran kasus serta perkembangannya dilakukan kegiatan investigasi serta penanggulangan kasus agar kasus tidak semakin meluas, dengan tujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi kejadian diare yang terjadi di Desa Salumpaga WKP Laulalang Kecamatan Toli-toli Utara Kabupaten Tolitoli.</p>
<p align="justify">Lebih khusus lagi, investigasi ini mengarah untuk memastikan apakah kejadian diare di Desa Salumpaga merupakan suatu KLB, untuk mengetahui gambaran epidemiologi yang berkaitan dengan KLB Diare,  mengidentifikasi sumber penyebab dan cara penularan diare dan mengidentifikasi faktor risiko kejadian diare.</p>
<p align="justify">Penyelidikan ini dilakukan dengan melakukan wawancara pada penderita atau keluarganya dari rumah ke rumah serta menggunakan formulir investigasi pengamatan/observasi terhadap sanitasi lingkungan. Selanjutnya data sekunder diperoleh dari laporan mingguan (W2), laporan penyakit diare, Surveilans Terpadu Penyakit dan Laporan bulanan penyakit (LB1). Selain itu dikumpulkan juga data penunjang yaitu, berupa data umum penduduk, sarana prasarana yang diambil dari kantor desa Salumpaga.</p>
<p align="justify">Penyelidikan kasus ini dilakukan oleh Tim Penanggulangan KLB Kabupaten dan Tim Puskesmas selama 4 hari yaitu, tanggal 23 Mei – 26 Mei 2008 dan pemantauan tetap dilaksanakan oleh puskesmas sampai KLB berakhir.   Data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan proses editing, dan diolah secara deskriptif dengan bantuan komputer.  Untuk mengetahui pola epidemiologi dari KLB diare di Desa Salumpaga Kecamatan Toli-toli Utara, dilakukan penyajian data secara deskriptif dalam bentuk narasi, tabel dan grafik serta dilakukan analisis secara epidemiologi.</p>
<p align="justify">Secara umum Kecamatan Tolitoli Utara terdiri dari 7 desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Buol dan Kecamatan Dakopemean serta Laut Sulawesi.  Desa Salumpaga terdiri dari 1008 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 4.117 jiwa yang terdiri dari 2000 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan perempuan 2.117 jiwa serta jumlah balita 175 orang (sumber : Kantor Desa Salumpaga).</p>
<p align="justify">Fasilitas umum yang ada di Desa Salumpaga antara lain terdapat 1 buah lapangan olah raga, 1 buah sekolah dasar, Puskesmas Pembantu dan Polindes. Tenaga yang operasional di Desa untuk membantu masyarakat di bidang kesehatan sebanyak 2 orang yaitu, petugas Puskesmas pembantu dan Bidan Desa Salumpaga. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di masyarakat diperoleh melalui berbagai sumber antara lain sumur dangkal 20 buah dan yang lainnya menggunakan air sungai sebagai sumber air minum dan air bersih. Sedangkan untuk sarana pembuangan tinja yang tersedia 200 unit /KK (19,84 %) selebihnya menggunakan sungai dan pantai sebagai tempat pembuangan tinja.</p>
<p align="justify">Kasus diketahui melalui laporan pisan petugas suveilans Puskesmas Laulalang pada tanggal 22 Mei 2008 bahwa telah terjadi kasus muntah berak dengan jumlah kasus 16 orang dan kematian 1 orang, pada tanggal 24 Mei 2008 dilaksanakan investigasi kasus ke lapangan yang disertai dengan pengobatan penderita. Hasil dari investigasi ini ditemukan 42 penderita dan 2 kasus yang meninggal. Awal kasus terjadi pada tanggal 1 Mei 2008. Kasus yang diinvestigasi ini adalah semua orang yang buang air besar mengalami perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan dapat bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya. Kurun waktu data yang diinvestigasi adalah sampai adanya awal kasus ditemukan dan dilakukan pengamatan secara terus menerus dan ketat sampai batas waktu 2 kali masa inkubasi.</p>
<p align="justify">Puncak kasus terjadi pada tanggal 22 Mei 2008 dan kasus yang meninggal terjadi pada tanggal 19 Mei 2008 dan 22 Mei 2008.  Untuk melihat apakah suatu kejadian merupakan suatu kejadian luar biasa atau tidak hal ini dapat kita ketahui dari berbagai definisi yang ada antara lain terjadinya peningkatan kasus/kematian yang bermakna dari suatu penyakit atau masalah kesehatan. Dalam kasus ini yang dipakai adalah peningkatan yang bermakna berdasarkan minggu kejadian, serta yang lainnya kasus yang ada dibandingkan dengan rata-rata kasus lima tahun terakhir.</p>
<p align="justify">Kasus diare yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Laulalang merupakan suatu KLB hal ini dukung oleh fakta terjadinya peningkatan kasus 2-3 kali dibandingkan dengan minggu yang sama pada tahun sebelumnya serta dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya pada tahun yang sama. Jika kasus yang ada dibandingkan dengan rata-rata kejadian kasus diare di wilayah kerja Puskesmas Laulalang juga terjadi peningkatan kasus diare 2-3 kali nilai rata-rata.  Kasus diare yang terjadi di WKP Laulalang pada tahun 2008 sejumlah 277 kasus dengan rata-rata kasus setiap bulannya 23 kasus. Sedangkan kasus diare berdarah 97 kasus dengan rata-rata kasus setiap bulannya 8 kasus (sumber : STP Pusk. Laulalang).</p>
<p align="justify">Jika dibandingkan dengan kasus diare pada bulan Mei tahun 2008 dan bulan yang sama dengan tahun sebelumnya terjadi peningkatan kasus 2x, hal ini juga terjadi pada kasus diare berdarah, hal ini jelas sekali mengindikasikan telah terjadi KLB Diare di WKP Laulalang Kec. Toli-toli Utara.</p>
<p align="justify">Awal kasus diare muncul pada tanggal 1 Mei 2008 pada salah satu anak berumur 10 bulan dengan gejala muntah-muntah dan berak 6-10 kali dalam sehari, dan kasus lain muncul setelah 10 hari berikutnya, semenjak saat itu kasus setiap hari bermunculan. Berdasarkan minggu kejadian kasus yang pertama muncul pada mingu ke-18, peningkatan kasus yang bermakna pada mingu ke-20 serta puncak kasus terjadi pada mingu ke-21 dan mengalami penurunan tajam yang pada akhirnya minggu ke-24 kasus sudah tidak ada.</p>
<p align="justify">Setelah melalui pemantauan yang dilakukan terus menerus selama dua kali masa inkubasi terpanjang penyakit diare diperoleh total kasus 49 kasus dimana 42 kasus telah terdeteksi dan di investigasi pada saat terjadinya KLB. Sisa kasus muncul pada minggu ke-22 sebanyak 6 kasus serta pada minggu ke-23 ada 1 kasus dan tidak ada kasus lagi pada minggu berikutnya. Jadi KLB berakhir di Desa Salumpaga Kec. Tolitoli Utara pada minggu ke-23 karena setelah minggu tersebut dipantau terus sampai 2 minggu berikutnya sudah tidak ada kasus diare yang muncul.</p>
<p align="justify">Keluhan lanjutan dialami penderita diare di Desa Salumpaga Kec. Tolitoli Utara adalah seperti muntah, berak, demam dan keluhan lainnya. Berdasarkan gejala yang ada maka diare yang terjadi merupakan diare akut diare persisten, serta sebaran kasus diare berdasarkan kelompok umur tidak merata, kelompok umur yang paling banyak terserang adalah &gt; 5 tahun (25 kasus) dengan proporsi 59,52 %, sedangkan kasus yang paling sedikit terjadi pada kelompok umur kurang dari 1 tahun (5 kasus) dengan proporsi 11,90 %.</p>
<p align="justify">Besarnya Angka serangan berdasarkan kelompok umur yang tertinggi pada kelompok umur bayi (20 %), pada kelompok umur 1-4 tahun 6,86 % sedangkan pada kelompok umur lebih besar dari 5 tahun 1,98 %, sedangkan jumlah kematian adalah 2 orang terjadi pada bayi 1 orang dan lanjut usia 1 orang. Kematian karena diare ini terjadi pada kelompok rentan atau resiko tinggi, yaitu pada bayi dan usia lanjut.</p>
<p align="justify">Kepemilikan jamban keluarga di Desa Salumpaga sangat kecil hanya 19,84 % selebihnya masyarakat menggunakan pantai dan sungai sebagai tempat pembuangan tinja. Hal ini jelas mencemari air dan tanah yang ada disekitarnya. Keadaan ini menggambarkan perilaku masyarakat yang kurang kondusif terhadap kesehatan, jika perilaku ini tidak diwaspadai maka masalah yang sama tetap akan uncul di Desa Salumpaga sebagaimana hal yang sama terjadi pada Bulan Juli 2006 dengan kasus awal pada tanggal 26 Juni 2006 dan berakhir pada tanggal 27 Juli 2006 dengan jumlah kasus 17 orang (AR 0,42 %) dan kematian 1 orang (CFR 5,88 %).</p>
<p align="justify">Secara umum masyarakat menggunakan sarana pembuangan tinja yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. Jika dekat dengan pantai maka masyarakat menggunakan pantai, jika dekat dengan sungai menggunakan sungai sedangkan yang jauh dari pantai dan sungai menggunakan kebun sebagai tempat pembuangan tinja. Bagi masyarakat yang sudah mempunyai pemahaman akan manfaat jamban keluarga mereka menggunakan jamban keluarga sebagai tempat pembuangan tinja. Sedangkan air bersih sebagai sumber air minum diperoleh melalui berbagai sumber antara lain PAM atau perpipaan 13 orang (30, 95 %), sungai 20 orang (47,62 %), sumur gali 7 orang (16,67 %) dan lain-lain 2 orang (4,76 %).</p>
<p align="justify">Upaya-upaya yang dilakukan dalam penanganan dan penanggulangan kejadian luar biasa diare di Desa Salumpaga adalah memberikan penyuluhan secara individu pada saat investigasi kasus, penyuluhan secara umum kepada masyarakat. Memberikan pengobatan kepada semua penderita diare dan perkembangan kasus dipantai secara ketat sampai kasus berakhir.</p>
<p align="justify">Untuk itu dapat disimpulkan bahwa kejadian diare di Desa Salumpaga Kec. Tolitoli Utara merupakan suatu Kejadian Luar Biasa, jumlah penderita 42 orang dengan angka serangan pada saat KLB 2,49 %, dengan jumlah kematian 2 orang serta case fatality rate (CFR=2,41 %), kasus yang paling muda usia 8 bulan dan usia yang paling tua 75 tahun dengan kelompok umur yang paling banyak terserang adalah &gt; 5 tahun (25 kasus) dengan proporsi 59,52 %  sedangkan besarnya angka serangan pada semua kelompok umur adalah 1,98 % dengan CFR 4,76 %  dan KLB berawal pada tanggal 1 Mei 2008 (minggu ke-18) dan berakhir pada minggu ke-23 tahun 2008.</p>
<p align="justify">Karena kasus diare sering ditemukan di Desa Salumpaga serta untuk memperkecil kasus dan mencegah hal yang sama berulang kembali, maka ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dan dilaksanakan antara lain :</p>
<ol>
<li>
<div>Terus menerus memberikan penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada anak sekolah dan masyarakat.</div>
</li>
<li>
<div>Mengolah air yang ada dengan saringan pasir cepat atau lambat, kemudian sebelum air digunakan untuk air minum harus dimasak terlebih dahulu.</div>
</li>
<li>
<div>Semua masyarakat sebaiknya membuang tinja di septik tang agar terhindar dari pencemaran lingkungan oleh mikroba patogen.</div>
</li>
<li>
<div>Kaporisasi pada sumur-sumur yang digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air minum dan air bersih.</div>
</li>
<li>
<div>Agar lintas program dan lintas sektor memikirkan teknologi sederhana untuk mengolah air sungai menjadi sumber air bersih bagi masyarakat.</div>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/investigasi-klb-diare-di-desa-salumpaga-kec-toli-toli-utara-kab-toli-toli-tahun-2008/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sulteng Kekurangan Ribuan Tenaga Kesehatan</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/sulteng-kekurangan-ribuan-tenaga-kesehatan/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/sulteng-kekurangan-ribuan-tenaga-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 07:46:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[Provinsi Sulawesi Tengah ternyata masih kekurangan ribuan tenaga kesehatan. Berdasarkan data terakhir tahun 2008, dari tujuh kategori tenaga kesehatan keadaan tenaga kesehatan di Sulawesi Tengah tercatat sebanyak 6.303 orang. Jumlah tersebut relatif masih kurang dibanding dengan perkiraan kebutuhan yang mencapai 8.500 tenaga kesehatan di tahun 2008. Kasubdin Bina Pengembangan Tanaga KesehatanUsman Y. Tantu, S.Sos., M.Kes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/nakes.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-890" src="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/nakes.jpg" alt="" width="143" height="212" /></a>Provinsi Sulawesi Tengah ternyata masih kekurangan ribuan tenaga kesehatan. Berdasarkan data terakhir tahun 2008, dari tujuh kategori tenaga kesehatan keadaan tenaga kesehatan di Sulawesi Tengah tercatat sebanyak 6.303 orang. Jumlah tersebut relatif masih kurang dibanding dengan perkiraan kebutuhan yang mencapai 8.500 tenaga kesehatan di tahun 2008. Kasubdin Bina Pengembangan Tanaga KesehatanUsman Y. Tantu, S.Sos., M.Kes menyebutkan tujuh kategori tenaga kesehatan berdasarkan PP 32 Tahun 1996, maka Provinsi Sulawesi Tengah masih kekurangan tenaga kesehatan hingga mencapai ribuan orang. Kondisi ini jelas sangat mempengaruhi prses pelayanan kesehatan.</p>
<p align="justify">Untuk jumlah dokter umum, saat ini tercatat sebanyak 363 orang, dimana dokter spesialis sebanyak 75 orang. Sementara kebutuhuan berdasarkan indikator indonesia sehat 2010 diSulawesi Tengah kebutuhan dokter umum tahun 2008 ini sebanyak 1.018 dengan dokter spesialis 120 orang. Tenaga perawat khususnya yang bekerja di unit kesehatan pemerintah dan swasta di Sulawesi Tengah saat ini berjumlah 2.639 orang atau sekitar 116 per seratus ribu penduduk. Sementara Indikator Indonesia sehat 2010 harus ada sebanyak 117 per saratus ribu penduduk. Kondisi saat ini sudah mendekati target. Namun, bila dilihat dari jenjang pendidikannya. kondisi ini masih memerlukan prehatian. Di Sulawesi Tengah, baru sekitar 5,16 persen sarjana keperawatan, 32,22 persen DIII dan sisanya adalah pendidikan SPK. <span id="more-831"></span>Selanjutnya bila dihitung beradasarkan daftar susunan pegawai di Puskesmassecara kasar setiap puskesmas hingga jaringan Pustu membutuhkan rata-rata 10-15 perawat, dengan demikian seharusnya untuk 161 Puskesmas di Sulawesi Tengah di butuhkan sekitar 2.500 perawat. Kenyataannya, tenaga perwat yang ada di Puskesmas saat ini baru berjumlah sekitar 1.400 orang.</p>
<p align="justify">Kondisi serupa juga terjadi pada tenaga bidan, berdasarkan data yang ada tercatat sekitar 1.626 orang bidan. Padahal kebutuhan tenaga bidan di Sulawesi Tengah sampai tahun 2008 sebanyak 2.545 orang. Guna mencapai Indonesia Sehat 2010 jumlah tersebuh harus mencapai 2.641 orang.  Sedangkan proyeksi kebutuhan tenaga bidan pada 2020 sebanyak 3.131 orang. Guna pemenuhan target desa siaga hingga akhir tahun 2009, dimana dari jumlah 1.673 desa dan kelurahan di Sulawersi Tengah di tahun 2008 baru tercapai sekitar 60 persen.</p>
<p align="justify">Kondisi selanjutnya juga terjadi pada tenaga kefarmasian. Catatan yang ada menujukkan tenaga kefarmasaian yang ada hanya berkisar 269 orang. Bila kembali mengacu pada Indikator Indonesia Sehat 2010 jumlah diatas harus mencapai 945 orang. Kebutuhan tersebut meliputi 236 Apoteker sedangkan selebihnya yaitu sebanyak 709 orang adalah tenaga DIII Farmasi / Asisten Apoteker.</p>
<p align="justify">Kondisi ini tentuanya sangat memprihatinkan sebab menurut WHO, selain pembiayaan, 80 persen keberhasilan pelaksanaan pembagunan kesehatan sangat ditentukan oleh SDM Kesehatan. Dengan demikian pembangunan kesehatan tidak akan berhasil dengan baik, jika tidak diikuti dengan ketersediaan tenaga kesehatan yang berkualitas, beretika, berdedikasi serta tersebar merata dalam jumlah dan jenis yang memadai.</p>
<p align="justify">Saat ini untuk meminimalisasi kekurangan SDM yang ada Departemen Kesehatan RI melalui Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2008 ini telah merekrut sebanyak 70 orang dokter untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis dari 700 orang dokter yang direncanakan secara nasional. Hasilnya sebanyak 17 orang telah dinyatakan lulus dan saat ini telah mengikuti program tersebut. Selanjutnya untuk tahap II yakni Oktober 2008 sedang menunggu hasil seleksi kembali direkrut sebanyak 54 orang dari 1.200 orang untuk tingkat nasional.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/sulteng-kekurangan-ribuan-tenaga-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Keberadaan Kader Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) Terhadap Revitalisasi Posyandu di Sulawesi Tengah</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/analisis-keberadaan-kader-pos-pelayanan-terpadu-posyandu-terhadap-revitalisasi-posyandu-di-sulawesi-tengah/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/analisis-keberadaan-kader-pos-pelayanan-terpadu-posyandu-terhadap-revitalisasi-posyandu-di-sulawesi-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 07:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Fokus penelitian keberadaan kader di POSYANDU sebagai salah satu sistem penyelenggaraan pelayanan kebutuhan kesegatan dasar dalam rangkan peningkatan SDM, khususnya bayi/balita yang rentan dengan penyakit kurang gizi/lumpuh layu, cacingan, diare dan ISPA. Selain itu agar POSYANDU dapat melaksanakan fungsinya, maka perlu upaya-upaya recitalisasi fungsi dan kinerjanya yang selama ini belum menunjukkan hasil yang optimal dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/posyandu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-892" src="http://sulteng.surveilans-respon.org/files/2009/04/posyandu.jpg" alt="" width="126" height="190" /></a>Fokus penelitian keberadaan kader di POSYANDU sebagai salah satu sistem penyelenggaraan pelayanan kebutuhan kesegatan dasar dalam rangkan peningkatan SDM, khususnya bayi/balita yang rentan dengan penyakit kurang gizi/lumpuh layu, cacingan, diare dan ISPA. Selain itu agar POSYANDU dapat melaksanakan fungsinya, maka perlu upaya-upaya recitalisasi fungsi dan kinerjanya yang selama ini belum menunjukkan hasil yang optimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pengguna (user) POSYANDU. Keberadaan POSYANDU dengan 5 (lima) kegiatannya yang dikenal dengan Panca Krida POSYANDU yakni Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), Imunisasi, Peningkatan Gizi dan Penanggulangan Diare. Kelima kegiatan yang dimaksud disebut juga pelayanan 5 (lima) meja, yaitu Meja 1 : pendaftaran oleh kader POSYANDU, Meja 2 : penimbangan balita oleh kader POSYANDU, Meja 3 : pencatatan hasil penimbangan oleh kader POSYANDU, Meja 4 : penyuluhan oleh kader POSYANDU dan petugas kesehatan, dan Meja 5 : imunisasi dan pemeriksaan ibu hamil oleh petugas kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-793"></span>Tugas kader selain di POSYANDU melakukan kunjungan rumah didampingi oleh nakes atau tokoh masyarakat untuk mendata dan mencari tahu tentang sebab ketidak hadiran pengguna POSYANDU, pendataan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu menyusui dan keluarga miskin (GAKIN). Tugas kader cukup berat dalam mengelola dan melayani masyarakat, karena pendataan POSYANDU belum dimaknai sebagai sarana yang dilahirkan dan dikembangkan atas kesaradaran dan upaya sendiri atas partisipasi sosial setiap komunitas di desa dan di kota.</p>
<p style="text-align: justify">Uraian-uraian diatas dapat dirumuskan beberapa masalah sehubungan dengan tugas kader POSYANDU yakni :</p>
<ol style="text-align: justify">
<li>Apakah ada hubungan antara motivasi kader dan pengguna POSYANDU terhadap revitalisasi POSYANDU.</li>
<li>Faktor-faktor Barrier dan stimulans apa yang mempengaruhi revitalisasi POSYANDU.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Tujuan penelitian</strong></em></p>
<ol style="text-align: justify">
<li>Untuk mengetahui dan mengalisis hubungan antara tingkat motivasi kader dan pengguna POSYANDU terhadap upaya revitalisasi POSANDU.</li>
<li>Untuk mengungkapkan, menganalisis faktor-faktor barrier dan stimulans yang mempengaruhi revitalisasi POSYANDU.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify">Kegunaan penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi dan analisis hubungan antara tingkat motivasi kader dan pengguna POSYANDU terhadap revitalisasi POSYANDU.<br />
Untuk menganalisis data dalam penelitian ini, maka metode pengumpulan data menggunakan observasi non partisipan, indeft interview, kuesioner dan dokumentasi. Penyebaran angket diperuntukkan kader dan pengguna, dengan jumlah populasi sebanyak 4.674 kader, untuk menghitung dan menentukan jumlah sampel dilakukan secara “stratified sampling” dengan pembagian proporsional yakni, Kota Palu 54 kader, Kabupaten Banggai 79 kader, Kabupaten Toli-toli 54 kader, dan Kabupaten Parigi Moutong 83 kader. Sedangkan sampel pengguna ditentukan melalui “purposive sampling” diutamakan pengguna yang aktif pada hari buka POSYANDU, sebanyak 191 orang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, bulan Juli sampai dengan Agustus 2006 yakni data kualitatif yang bersumber dari Observasi Non Participation dan Indeft Interview dengan menggunakan pedoman wawancara, dan data Kualitatif hasil [penyebaran angket untuk kader dan pengguna dengan menggunakan rumus statistik Chi-Kuadrat dengan alpha = 0.05.</p>
<p style="text-align: justify">Hasil temuan menunjukkan bahwa sebagia besar kader (83.2%) mengatakan bahwa fasilitas seperti KMS/KIA, buku pencatatan, alat timbangan, bahan imunisasi dan tetes polio, obat-obatan (Vitamin A dan Fe) cukup tersedia di POSYANDU. Sedangkan jumlah kader yang aktif di Posyandu antara 2-3 orang (77.5%), sebaliknya pengguna mencapai (97.9%), tetapi tingkat kesadaran kader memberikan pelayanan di POSYANDU tiap bulan mencapai (65.9%). Ini berarti ada hubungan yang positif dan signifikan antara motiasi kader dan pengguna pada hari buka POSYANDU, karena semakin tinggi tingkat motivasi kader dan pengguna semakin tercapai pula upaya revitalisasi atau sebaliknya. Demikian juga status sosial ekonomi kader menjadi faktor barrier dan stimulans yang mempengaruhi revitalisasi POSYANDU, baik tingkat usia, pendidikan, pendapatan dan pengalam,an. Untuk mencapai hasil yang optimal, maka perlu dilakukan penyegaran dan pelatihan kader untuk meningkatkan kualitas pelayanan kader terhadap pengguna, dan solusi bagi daerah-daerah yang masih kekurangan kader, serta mengaktifkan kembali keberadaan unit pengelola POSYANDU di desa dan di kota.</p>
<p style="text-align: justify"><em>a</em><em>rtikel ini disadur dari Laporan Penelitian :Analisis Keberadaan Kader Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) Terhadap Revitalisasi POSYANDU di Sulawesi Tengah, Oleh Drs. M. Munir Salham, M.A., dkk, kerjasama antara FISIP UNTAD dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2006. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/analisis-keberadaan-kader-pos-pelayanan-terpadu-posyandu-terhadap-revitalisasi-posyandu-di-sulawesi-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beri Pelayanan Rujukan Dokter Spesialis</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/beri-pelayanan-rujukan-dokter-spesialis/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/beri-pelayanan-rujukan-dokter-spesialis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 06:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Upaya pelayanan yang dilakukan oleh Sub Dinas Bina Pelayanan Medik Dinkes Prov Sulteng saat ini terus digalakkan, hal ini tunjukkan dengan pemberian pelayanan rujukan dokter spesialis ke daerah-daerah khususnya yang belum mempunyai dokter spesialis.
Kasubdin Bina Pelayanan Medik Dinkes Prov Sulteng Nurdjannah Badjeber, SKM, mengatakan pelayanan rujukan dokter spesialis ke daerah-daerah, diharapkan menjadi solusi dalam memenuhi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Upaya pelayanan yang dilakukan oleh Sub Dinas Bina Pelayanan Medik Dinkes Prov Sulteng saat ini terus digalakkan, hal ini tunjukkan dengan pemberian pelayanan rujukan dokter spesialis ke daerah-daerah khususnya yang belum mempunyai dokter spesialis.</p>
<p align="justify">Kasubdin Bina Pelayanan Medik Dinkes Prov Sulteng Nurdjannah Badjeber, SKM, mengatakan pelayanan rujukan dokter spesialis ke daerah-daerah, diharapkan menjadi solusi dalam memenuhi kekurangan dokter di Provinsi Sulawesi Tengah.</p>
<p align="justify">Pelayanan rujukan dokter spesialis ini murni dilakukan oleh Dinkes Prov Sulteng dengan pembiayaan sepenuhnya di tanggung oleh Dinkes Prov Sulteng. Bagi masyarakat yang mendapatkan pelayanan rujukan dokter spesialis ini, tidak dipungut biaya, seluruh biayanya dibebankan kepada Dinkes Prov Sulteng. Kegiatan ini digelar dalam rangka memenuhi kekurangan dokter spesialis di Sulteng ungkap Nurdjannah.</p>
<p align="justify">Beliau juga menegaskan bahwa di tahun 2008 Dinkes telah menggelar pelayanan rujukan dokter spesialis di sejumlah deerah diantaranya Kabupaten Morowali, Tojo una-una dan Banggai Kepulauan untuk bedah mulut dan THT. Kabupaten Parigi Moutong, Morowali dan Poso untuk dokter spesialis jantung dan syaraf. Program ini dilaksanakan rutin dalam setiap tahun sekali tambahnya.</p>
<p align="justify">Selain pelayanan rujukan dokter spesialis Subdin Bina Pelayanan Medik juga mengembangkan program kerjasama dengan BKKBN Sulawesi Tengah. Khususnya untuk pelayanan kontrasepsi Mantap, Tubektomi dan Vasektomi, untuk pelyanan ini Dinkes Prov Sulteng menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan secara teknis kepada BKKBN sedangkan Dinkes sendiri hanya menyediakan bantuan dana. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia Sehat dengan salah satu indikatornya menurunya angka kematian ibu dan bayi.</p>
<p align="justify">Secara internal upaya lain diantaranya melakukan upaya peningkatan mutu layanan kesehatan pada rumah sakit dan puskesmas. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka saat ini Dinkes telah berupaya memperjuangkan 2 rumah sakit untuk medapatkan sertifikasi ISO yakni RS Madani Palu dan RSU Anutapura.</p>
<p align="justify">Sedangkan untuk puskesmas saat yang telah mendapatkan ISO diantaranya Puskesmas Birobuli Palu, Puskesmas Lawanga Poso dan Puskesmas Donggala. Tidak hanya itu pelayanan bagi masyarakat terpencil juga menjadi perhatian dari Subdin Bina Pelayanan Medik dengan memberikan bantuan berupa pengobatan gratis dan pemberian pasta gigi kepada masyarakat terasing. Hal ini dilakukan agar masyarakat terasing juga terbiasa dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).</p>
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/beri-pelayanan-rujukan-dokter-spesialis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Angka Penyakit Menular di Sulawesi Tengah Masih Tinggi</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/angka-penyakit-menular-di-sulawesi-tengah-masih-tinggi/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/angka-penyakit-menular-di-sulawesi-tengah-masih-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 06:38:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=825</guid>
		<description><![CDATA[Angka penyakit menular di Sulawesi Tengah masih tergolong tinggi, khususnya di sejumlah daerah penyakit menular seperti Diare dam Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi peningkatan kasus. Olehnya itu, masyarakat diminta waspada khususnya dimusin penghujan dan lebih khusus lagi pada musim pancaroba.
&#8220;Pada musim-musim penghujan, memang ada beberapa penyakit menular yang kasusnya meningkat. Seperti DBD, Diare dan Malaria. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Angka penyakit menular di Sulawesi Tengah masih tergolong tinggi, khususnya di sejumlah daerah penyakit menular seperti Diare dam Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi peningkatan kasus. Olehnya itu, masyarakat diminta waspada khususnya dimusin penghujan dan lebih khusus lagi pada musim pancaroba.</p>
<p align="justify">&#8220;Pada musim-musim penghujan, memang ada beberapa penyakit menular yang kasusnya meningkat. Seperti DBD, Diare dan Malaria. Berdasarkan data, hal ini biasanya terjadi pada akhir Januari dan awal Februari, serta akhir Nopember dan Awal Desember, kasusnya pasti meningkat karena musim pancaroba&#8221; jelas Kasubdin Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dr. Ida Bagus Yadnya Putra.</p>
<p align="justify">Sayangnya data tersebut menjadi tidak tepat karena pada awal Nopember saat ini telah terjadi peningkatan kasus DBD, khususnya di Kabupaten Poso dan Kota Palu. Untuk itu diharapkan masyarakat agar membiasakan perilaku Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk melakukan pola 3 M (Mengubur, Menguras dan Menutup) juga meningkatkan pemberian Abatesasi.</p>
<p align="justify">&#8220;Dalam satu tahun terakhir ini, penyakit diare, keracunan dan DBD, memang agak meningkat. Bahkan terjadi beberapa kasus KLB keracunan seperti di Banggai dan beberapa peningkatan kasus DBD di beberapa Kabupaten lain, seperti Kabupaten Tojo Una-una, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Toli-toli:, sahut Kasubdin Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.</p>
<p align="justify">Saat ini Penyakit Rabies yang juga masih pada tingkat yang menghawatirkan. Namun demikian, pihaknya telah bekerjasama dengan Dinas Peternakan khususnya untuk urusan hewannya. Sedangkan yang dinyatakan positif, telah diberikan vaksinasi, dengan terlebih dahulu dilakukan pencucian pada lukanya.</p>
<p align="justify">Begitupun dengan penyakit Malaria, intensitas dan peningkatannya juga cukup tinggi. Kasusnya terjadi di Kabupaten Toli-toli dan Kabupaten Buol. Sedangkan penyakit Filariasis (kaki gadjah) itu juga khususnya sangat meningkat. Seperti yang terjadi di Kabupaten Parigi Moutong dam Kabupaten Donggala. Namun untuk kasus tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota telah melakukan pengobatan massal.</p>
<p align="justify">&#8220;Dua penyakit ini penularannya juga melalui nyamuk. Sehingga kepada masyarakat, diminta untuk menjaga diri dari gigitan nyamuk khususnya pada waktu-waktu tertentu, misalnya kalau menonton TV dan keluar malam harus menggunakan baju, tegas dr. Ida Bagus Yadnya Putra.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/angka-penyakit-menular-di-sulawesi-tengah-masih-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Ratus Enam Puluh Enam Ribu Penduduk Kabupaten Parigi Moutong Minum Obat Anti Kaki Gajah/Filariasis</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/dua-ratus-enam-puluh-enam-ribu-penduduk-kabupaten-parigi-moutong-minum-obat-anti-kaki-gajahfilariasis/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/dua-ratus-enam-puluh-enam-ribu-penduduk-kabupaten-parigi-moutong-minum-obat-anti-kaki-gajahfilariasis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 06:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut ini merupakan kontribusi dari penanggungjawab Program Filariasis Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong Sdr. Sunardi, SKM. MKM.
Ada yang Istimewa pada puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44 di Kabupaten Parigi Moutong, yang diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2008 di halaman Kantor Bupati Parigi Moutong. Pada peringatan HKN ini dirangkaikan juga dengan pencangangan Pengobatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Artikel berikut ini merupakan kontribusi dari penanggungjawab Program Filariasis Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong Sdr. Sunardi, SKM. MKM.</p>
<p align="justify">Ada yang Istimewa pada puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44 di Kabupaten Parigi Moutong, yang diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2008 di halaman Kantor Bupati Parigi Moutong. Pada peringatan HKN ini dirangkaikan juga dengan pencangangan Pengobatan Massal Penyakit Filariasis/Kaki Gajah. Sasaran pengobatan massal ini bagi semua penduduk Kabupaten Parigi Moutong yang berusia 2 tahun keatas, kecuali kelompok tertentu yang ditunda pengobatanya seperti anak kurang 2 tahun, ibu yang sedang hamil/menyusui, orang yang sedang sakit berat, Penderita kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut dan balita dengan marasmus/kwashiorkor (Gizi Buruk).</p>
<p align="justify">Pencangan ini di tandai dengan minum obat bersama berupa <em>DEC, Albendazole dan Paracetamol</em> oleh Bupati, Wakil Bupati Parigi Moutong, Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong beserta Anggotanya dan Jajaran Muspida Kabupaten Parigi Moutong. Tidak hanya petinggi Kabupaten Parigi Moutong pada kesempatan ini juga ikuti oleh seluruh Pagawai Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (peserta upacara) sebanyak 1926 orang.</p>
<p align="justify">
<p><span id="more-823"></span></p>
<p align="justify">Dalam sambutannya bupati menjelaskan, penyakit kaki gajah adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan nyamuk yang dapat menyebabkan kecacatan menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara dan alat kelamin, baik pada laki-laki maupun perempuan “Hal ini dapat menurunkan derajat kesehatan dan kualitas SDM, sehingga menurunkan produktivitas yang mengakibatkan kerugian ekonomi cukup besar karena penderita tidak dapat bekerja seumur hidup.” Jelasnya.</p>
<p align="justify">Penyakit kaki gajah atau dalam istilah daerah <strong><em>Natiba</em></strong> masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Parigi Moutong. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan kapan saja dimana saja. “untuk itu saya menyerukan kepada semua masyarakat Kabupaten Parigi Moutong untuk minum obat pencegah penyakit kaki gajah sekali setahun selama 5 tahun berturut-turut yang akan dilaksanakan serentak diseluruh Kabupaten Parigi Moutong mulai 1 Desember hingga 31 Desember 2008,”Seru Longki.</p>
<p align="justify">Sebelum kegiatan pengoatan massal ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong diantaranya :</p>
<ul>
<li>
<div>Advokasi ke Penentu Kebijakan (Bupati), DPRD, Camat sekabupaten Parigi Moutong, di Ruang Pertemuan Pemda Kab. Parigi Moutong untuk mendapatkan dukungan komitmen dan Anggaran untuk pelaksanaan pengobatan massal selama 5 tahun kedepan yang di hadiri oleh Kepala Sub Direktorat Filariasis dan Schistosomiasis Depkes RI.</div>
</li>
<li>
<div>Sosialisasi Pengobatan massal di tingkat Kabupaten Parigi Moutong yang dihadiri oleh Kepala Bidang P2PL Dinkes Propinsi Sulteng, Penanggung Jawab Program Filariasis Dinkes Prop. Sulteng, semua kepala Puskesmas dan Pemegang Program Filariasis.</div>
</li>
<li>
<div>Sosialisasi pengobatan massal di tingkat kecamatan yang dilaksanakan disemua kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Parigi Moutong yang dihadiri oleh Camat, Kepala-kepala desa, Tokoh Masyarakat, Kader kesehatan dan petugas Puskesmas.</div>
</li>
</ul>
<p align="justify">Promosi Kesehatan tentang pelaksanaan Pengobatan Massal dilakukan melalui media elektronik (Radio Kareme Nuvula FM) dan melalui media cetak dengan penyebaran brosur tentang Pengobatan Massal Filariasis. <strong></strong></p>
<p align="justify">Tujuan promosi kesehatan tentang pengobatan massal Filariasis ini adalah untuk :</p>
<ul>
<li>
<div>Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat tentang Pengobatan Masssal Filariasis.</div>
</li>
<li>
<div>Setiap penduduk di wilayah Kabupaten Parigi Moutong bersedia minum obat sekali setahun selama 5 tahun dengan dosis yang telah ditentukan.</div>
</li>
<li>
<div>Setiap penduduk bersedia mengajak anggota keluarga dan tetangga untuk memerikasakan diri dan minum obat sesuai yang dianjurkan.</div>
</li>
<li>
<div>Setiap penduduk mengetahui reaksi obat pada pelaksanaan pengobatan massal sehingga masyarakat tidak takut apabila terjadi efek samping/reaksi obat.</div>
</li>
<li>
<div>Setiap penduduk bersedia datang untuk memeriksakan diri dan diambil darahnya pada malam hari untuk kegiatan Survey Darah Jari/SDJ</div>
</li>
</ul>
<p align="justify">Sasaran Pengobatan Massal dilaksanakan serentak yang dimulai pada tanggal 1 s/d 31 Desember 2008 terhadap semua penduduk yang tinggal di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, tetapi yang ditunda pengobatannya adalah mereka yang dibawah ini :</p>
<ol>
<li>
<div>Anak berusia kurang dari 2 tahun.</div>
</li>
<li>
<div>Ibu hamil.</div>
</li>
<li>
<div>Ibu yang sedang menyusui.</div>
</li>
<li>
<div>Orang yang sedang sakit berat.</div>
</li>
<li>
<div>Penderita kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut.</div>
</li>
<li>
<div>Anak berusia kurang dari 5 tahun dengan marasmus atau kwashiorkor.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong></strong></p>
<p align="justify"><strong>Tabel 1. Sasaran Pengobatan Massal Filariasis berdasarkan Puskesmas*) </strong></p>
<p align="justify"><a href="http://dinkesprovsulteng.files.wordpress.com/2009/03/tabel1.png"><img src="http://dinkesprovsulteng.files.wordpress.com/2009/03/tabel1-thumb.png" border="0" alt="tabel1" width="473" height="498" /></a></p>
<p align="justify"><strong>Diethyl Carmazine Citrate (DEC)</strong> Obat ini mempunyai pengaruh yang cepat terhadap microfilaria, dalam beberapa jam microfilaria dalam peredaran darah mati. Cara kerja DEC adalah melumpuhkan otot microfilaria, sehingga tidak dapat bertahan ditempat hidupnya dan mengubah komposisi dinding microfilaria menjadi lebih mudah dihancurkan oleh system pertahanan tubuh. DEC juga dapat menyebabkan matinya sebagian cacing dewasa, dan cacing dewasa yang masih hidup dapat dihambat perkembangbiakannya selama 9 – 12 bulan.</p>
<p align="justify"><strong>Albendazole</strong> Albendazole dikenal sebagai obat yang digunakan dalam pengobatan cacing usus (cacing gelang, cacing kremi, cacing cambuk dan cacing tambang). Albendazole juga dapat meningkatkan efek DEC dalam mematikan cacing filarial dewasa dan microfilaria tanpa menambah reaksi yang tidak dikehendaki.</p>
<p align="justify">Pengobatan massal menggunakan obat DEC, Albendazole dan Paractamol yang diberikan sekali setahun selama 5 tahun, dan dozis obat diberikan berdasarkan umur sesuai tabel dibawah ini :</p>
<p align="justify"><a href="http://dinkesprovsulteng.files.wordpress.com/2009/03/image.png"><img src="http://dinkesprovsulteng.files.wordpress.com/2009/03/image-thumb.png" border="0" alt="image" width="494" height="127" /></a></p>
<p>Dari hasil pelaksanaan Pengobatan Massal Filariasis yang telah dilaksanakan dari tanggal 1 s/d 31 Desember 2008 doperoleh data sebagai berikut :</p>
<p><a href="http://dinkesprovsulteng.files.wordpress.com/2009/03/image1.png"><img src="http://dinkesprovsulteng.files.wordpress.com/2009/03/image-thumb1.png" border="0" alt="image" width="505" height="463" /></a></p>
<p>Dari tabel diatas terlihat bahwa cakupan pengobatan massal baru mencapai 81,5% hal ini disebabkan karena ada beberapa Permasalahan yang ditemukan pada waktu pelaksanaan pengobatan sebagai berikut :<strong></strong></p>
<ul>
<li>
<div>Kurangnya Promosi mengenai pelaksanaan pengobatan Massal Filariasis di tingkat desa sehingga partisipasi masyarakat dalam hal minum obat masih rendah/kurang.</div>
</li>
<li>
<div>Kurangnya sosialisasi mengenai reaksi obat, sehingga ada rasa ketakutan dari masyarakat untuk minum obat.</div>
</li>
<li>
<div>Minimnya tenaga pembantu pelaksana (TPP) sehingga pelaksanaan pengobatan memakan waktu yang cukup lama.</div>
</li>
<li>
<div>Kurangnya sosialisasi di tingkat bidan yang ada di desa sehingga ada beberapa kasus reaksi yang sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya bidan yang yang bersangkutan memahami tentang teknis pelaksanaan pengobatan.</div>
</li>
<li>
<div>Biaya Operasional dan SDM sangat terbatas.</div>
</li>
</ul>
<p align="justify">Dari pelaksanaan kegiatan Pengobatan Massal diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :<strong></strong></p>
<ul>
<li>
<div>Pelaksanaan pengobatan Massal Filariasis di Kabupaten Parigi Moutong telah dilaksakan dengan baik pada tanggal 1 s/d 31 Desember 2008.</div>
</li>
<li>
<div>Cakupan pelaksanaan pengobatan massal filariasis secara geografis telah mencakup semua desa dan Kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Parigi Moutong.</div>
</li>
<li>
<div>kupan Penduduk yang minum obat pada waktu pelaksanaan Pengobatan Massal Filariasis adalah 81,5 %.(target 90%).</div>
</li>
</ul>
<p align="justify">Untuk mengatasi masalah Filariasis disarankan untuk pelaksanaan Pengobatan Massal Filariasis tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya memerlukan Sosialisasi dan promosi yang lebih intensif, perlunya penambahan alokasi anggaran penanggulangan filariasis di kabupaten Parigi Moutong, perlu adanya koordinasi dengan lintas sektor dan lintas program, advokasi kepada penentu kebijakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/dua-ratus-enam-puluh-enam-ribu-penduduk-kabupaten-parigi-moutong-minum-obat-anti-kaki-gajahfilariasis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Hasil Peningkatan Kasus Penyakit Diare Di Wilayah Kerja Puskesmas Maholo Kec. Lore Timur Kabupaten Poso</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/laporan-hasil-peningkatan-kasus-penyakit-diare-di-wilayah-kerja-puskesmas-maholo-kec-lore-timur-kabupaten-poso/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/laporan-hasil-peningkatan-kasus-penyakit-diare-di-wilayah-kerja-puskesmas-maholo-kec-lore-timur-kabupaten-poso/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 06:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut ditulis oleh Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Poso yang telah dimuat dalam Bulettin Epidemiologi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2008.
Berdasarkan laporan dari Puskesmas Maholo (via telepon) pada tanggal 18 september 2008 bahwa telah terjadi kejadian luar biasa penyakit diare sebanyak 11 kasus (AR = 0,51%) dan satu diantaranya meninggal dunia (CFR = [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Artikel berikut ditulis oleh Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Poso yang telah dimuat dalam Bulettin Epidemiologi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2008.</p>
<p align="justify">Berdasarkan laporan dari Puskesmas Maholo (via telepon) pada tanggal 18 september 2008 bahwa telah terjadi kejadian luar biasa penyakit diare sebanyak 11 kasus (AR = 0,51%) dan satu diantaranya meninggal dunia (CFR = 9.09%) yang terjadi di Desa Winowanga dan Desa Maholo yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Maholo Kecamatan Lore Timur Kabupaten Poso.</p>
<p align="justify">Dan untuk menindaklanjuti laporan tersebut, maka Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Poso segera turun ke lokasi kejadian pada tanggal 19 September 2008 dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran epidemiologi tentang penyakit diare di Puskesmas Maholo, memastikan apakah telah terjadi KLB menurut variable Epidemiologi (Waktu, tempat dan orang), namun sebelumnya Tim dari Puskesmas Maholo telah turun ke lokasi untuk melaksanakan penyelidikan epidemiologi dan penangulangan.</p>
<p align="justify"><span id="more-821"></span>Sebagai informasi Puskesmas Maholo terletak di wilayah kecamatan lore timur kabupaten Poso yang merupakan pemekaran dari puskesmas wuasa kecamatan lore utara. Wilayah Puskesmas Maholo terdiri dari 5 desa, dan dua diantaranya merupakan lokasi kejadian luar biasa penyakit diare yakni, Desa Winowanga dengan jumlah penduduk 1.112 jiwa dan Desa Maholo dengan jumlah penduduk 1.042 jiwa.</p>
<p align="justify">Kondisi geografis desa-desa wilayah kerja Puskesmas Maholo adalah pegunungan, persawahan dan dialiri oleh sungai. Pada umumnya penduduk di Kecamatan Lore Timur bermata pencaharian sebagai petani, pedagang wiraswasta dan pegawai negeri. Adapun fasilitas kesehatan di Lore Timur adalah Puskesmas Maholo dan puskesmas pembantu Makarsari serta Poskesdes Maholo dan Winowangan.</p>
<p align="justify">Berdasarkan hasil investigasi oleh tim Dinas Kesehatan Kabupaten Poso dan Tim Puskesmas maholo didapatkan bahwa kejadian pertama kali terjadi pada tanggal 7 september 2008 di desa winowangan dan penderitanya meninggal.</p>
<p align="justify">Selanjutnya kejadian terus berlangsung dari tanggal 9 september 2008 pada saat tim melakukan investigasi untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut :</p>
<p align="justify"><a href="http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/files/2009/03/bulettin1a.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-193" src="http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/files/2009/03/bulettin1a.jpg?w=300" alt="bulettin1a" width="421" height="262" /></a></p>
<p align="justify">Kejadian ini terjadi di desa winowanga sebanyak 9 kasus dan satu diantaranya meninggal, dan 2 kasus terjadi di Desa Maholo. Golongan umur dan jenis kelamin penderita.</p>
<p align="justify"><a href="http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/files/2009/03/new-picture-11.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-194" src="http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/files/2009/03/new-picture-11.png?w=300" alt="new-picture-11" width="429" height="281" /></a>Dari tabel diatas, terlihat bahwa penderita penyakit diare banyak menyerang jenis kelamin laki-laki sebanyak 7 kasus (63,63 %) sedangkan pada kelompok umur penderita penyakit diare yang paling sedikit terserang adalah kelompok umur 15-44 tahun sebanyak 1 kasus (9,09%).</p>
<p align="justify">Gejala klinis yang dialami penderita diare adalah 100% berak-berak lebih dari 3 kali, konsistensi tinja lembek/cair 100 %, 50 % berak berlendir, muntah 27,27 % , nafsu makan berkurang 100 %, sakit perut yang hebat 50 % mata cekung 27,27 % dan yang mengalami kejang-kejang 9,09 %. Semua penderita telah mendapatkan pengobatan dari Bidan Desa serta dibantu oleh tenaga / perawat puskesmas maholo dengan pemberian oralit dan antibiotic, dan sampai pada saat tim melakukan penyelidikan 8 penderita telah sembuh dan 2 penderita masih dalam keadaan sakit.</p>
<p align="justify">Dari hal investigasi awal tim puskesmas terhadap orang tua penderita yang meninggal dan 6 penderita yang telah sembuh bahwa pada umumnya mereka mengkonsumsi makanan seperti mie instant yang di jual di warung, dan kerupuk yang di bawa penjual yang berasal dari daerah luar, namun tim puskesmas tidak mendapatkan sampel makanan tersebut.</p>
<p align="justify">Tim Dinas Kesehatan sempat mewawancarai 2 penderita yang masih sakit bahwa mereka mengkonsumsi daging ayam potong, namun tim Dinas kesehatan tidak mendapatkan sampel daging ayam potong tersebut karena penderita mengkonsumsinya empat hari sebelumnya.</p>
<p align="justify">Ditinjau dari cakupan air bersih bahwa pada umumnya masyarakat desa Winowanga dan desa maholo menggunakan sarana perpipaan, sedangkan dari cakupan jamban pada umunya masyarakat menggunkan jamban keluarga leher angsa mau pun cemplung. Namun Tim Dinas Kesehatan tetap melakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel air secara baktereologis dengan menggunakan metode H2S, yang tindak lanjuti dengan kaporisasi sumber air bersih, khususnya sumur gali. Usaha-usaha yang dilakukan pada saat penyelidikan yaitu penyuluhan kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat dan pembubuhan kaporit pada sumur warga.</p>
<p align="justify">Dari kejadian ini didapatkan telah terjadi kejadian luar biasa penyakit diare di desa Maholo dan winowangan wilayah kerja puskesmas Maholo kecamatan lore timur kabupaten Poso dengan jumlah kasus sebanyak 2 orang (AR=0,51%) dan 1 ke,atian (CFR = 9,09), secara umum Jenis kelamin laki-laki paling banyak menderita diare.</p>
<p align="justify">Untuk itu perlu dilaksanakan penyuluhan yang intensif oleh petugas puskesmas maholo terutama tentang cara hidup bersih dan sehat. Selanjutnya kepala Puskesmas dan pemerintah setempat agar melakukan pengawasan terhadap penjualan makanan terutama penjual makanan yang berasal dari luar daerah.</p>
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/laporan-hasil-peningkatan-kasus-penyakit-diare-di-wilayah-kerja-puskesmas-maholo-kec-lore-timur-kabupaten-poso/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Kualitas Layanan Puskesmas Terhadap Kepuasan Pengguna Jasa Keluarga Miskin dan Non Keluarga Miskin di Sulawesi Tengah</title>
		<link>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/analisis-kualitas-layanan-puskesmas-terhadap-kepuasan-pengguna-jasa-keluarga-miskin-dan-non-keluarga-miskin-di-sulawesi-tengah/</link>
		<comments>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/analisis-kualitas-layanan-puskesmas-terhadap-kepuasan-pengguna-jasa-keluarga-miskin-dan-non-keluarga-miskin-di-sulawesi-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 06:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulteng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulteng.surveilans-respon.org/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[Analisis Kualitas Layanan Puskesmas Terhadap Kepuasan Pengguna Jasa Keluarga Miskin dan Non Keluarga Miskin di Sulawesi Tengah, penelitian ini bertujuan untuk mengtahui dan menganalisis pengaruh variabel kualitas layanan yaitu reliability, responsiveness, assurance, emphaty dan tangible terhadap kepuasan pengguna jasa keluarga miskin (GAKIN) dan Non Keluarga Miskin pada Puskesmas di Sulawesi Tengah, menganalisis variabel kualitas layanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Analisis Kualitas Layanan Puskesmas Terhadap Kepuasan Pengguna Jasa Keluarga Miskin dan Non Keluarga Miskin di Sulawesi Tengah, penelitian ini bertujuan untuk mengtahui dan menganalisis pengaruh variabel kualitas layanan yaitu reliability, responsiveness, assurance, emphaty dan tangible terhadap kepuasan pengguna jasa keluarga miskin (GAKIN) dan Non Keluarga Miskin pada Puskesmas di Sulawesi Tengah, menganalisis variabel kualitas layanan yang paling berpengaruh dominan terhadap kepuasan pengguna jasa keluarga miskin (GAKIN) dan Non Keluarga Miskin pada Puskesmasdi Sulawesi Tengah, menganalisis perbedaan kualitas pelayanan Puskesmas antara yang menerapkan prinsip TQM dan Non TQM, menganalisis perbedaan kualitas pelayanan antara keluarga miskin (GAKIN) dengan Non GAKIN pada puskesmas yang menerapkan TQM dan Non TQM, menganalisis tingkat pelayanan Puskesmas berdasarkan Index Kepuasan Masyarakat (IKM).</p>
<p style="text-align: justify">Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis uji beda dengan menggunakan APLIKASI STATISTIK, analisis IKM. Menggunakan KEPMENPAN No. 24 Tahun 2004 dan analisis jalur (Path Analisys) dengan menggunakan Amos 5.</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-795"></span>Hasil analisis menunjukkan (1) seluruh dimensi yaitu (X1). responsiveness (X2), assurance (X3), emphaty (X4) dan tangible (X5) berpengaruh secara serempak terhadap kepuasan pengguna jasa (Y), layanan puskesmas sampel di Sulawesi Tengah. Koefisien determinasi total yang menggambarkan besarnya pengaruh total dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pengguna jasa layanan puskesmas adalah mengiindikasikan 37,6548%, sedangkan 62.3452% dipengaruhi oleh variabel lainyang tidak dianalisa dalam model ini, (2) dimensi emphaty memiliki pengaruh dominan terhadap kepuasan pengguna jasa layanan puskesmas sampel di Sulawesi Tengah dengan besaran pengaruh sebesar 8.195%, (3) variabel kualitas layanan yaitu reliability (X1), responsiveness (X2), assurance (X3), emphaty (X4) dan tangible (X5) menunjukkan perbedaan antara Puskesmas yang menerapkan TQM dengan puskesmas yang belum menerapkan konsep TQM, (4) dimensi reliability (X1), responsiveness (X2) dan emphaty (X4) menunjukkan perbedaan antara responden GAKIN dan Non GAKIN, sedangkan untuk dimensi assurance (X3) dan tangible(X5) tidak menunjukkan adanya perbedaan kualitas layanan antara responden GAKIN dan Non GAKIN, (5) berdasarkan unsur-unsur kualitas layanan IKM, umumnya Puskesmas TQM menunjukkan nilai rata-rata yang tergolong sedang, sedangkan pada Puskesmas Non TQM masih ada beberapa Puskesmas yang menunjukkan nilai rata-rata yang tergolong tidak baik.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Disadur dari Laporan Hasil Penelitian &#8220;Analisis Kualitas Layanan Puskesmas Terhadap Kepuasan Pengguna Jasa Keluarga Miskin dan Non Keluarga Miskin di Sulawesi Tengah&#8221; Kerjasama Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah dengan FEKON UNTAD 2006.</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>Bagi anda yang membutuhkan Laporan Hasil Penelitian ini dapat langsung kehalaman Download dengan link</em> <a title="Halaman Download" href="http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/download/" target="_blank">disini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulteng.surveilans-respon.org/2009/03/13/analisis-kualitas-layanan-puskesmas-terhadap-kepuasan-pengguna-jasa-keluarga-miskin-dan-non-keluarga-miskin-di-sulawesi-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
