Ibu Hamil Anemia

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan hemoglobin (Hb) dalam darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lalai dan cepat capek. Akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar, olahraga dan produktivitas kerja. Disamping itu penderita kekurangan zat besi akan menurunkan daya tahan tubuh, yang mengakibatkan mudah terkena infeksi.

Pada tahun 2006 telah dilakukan survey anemia ibu hamil di kabupaten Donggala dan Banggai dengan jumlah sampel di Kabupaten Donggala 324 ibu hamil dan di Banggai 263 ibu hamil. Survey ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status anemia gizi pada ibu hamil di Propinsi Sulawesi Tengah. Data diperoleh melalui wawancara langsung pada ibu hamil dengan menggunakan kuisioner, pengukuran LILA serta pengambilan dan pemeriksaan sampel darah ibu hamil dengan metode Sahli.

Hasil survey menunjukkan bahwa prevalensi anemia di masing-masing kabupaten adalah 82,0% dan 64,4%. Distribusi ibu hamil yang berisiko (umur < 20 dan > 35 tahun) di Kabupaten Banggai lebih tinggi (38,4%) dibanding Kabupaten Donggala (21,6%), namun  ibu hamil yang memeriksakan diri ke petugas kesehatan di Kabupaten Donggala lebih rendah (84,1%) dibanding Kabupaten Banggai (99,2%).

Hasil wawancara diperoleh  bahwa ibu hamil yang mendapat tablet Fe di Kabupaten Donggala dan Banggai masing-masing sebanyak 80% dan 82,9%, dari jumlah tersebut terdapat 20,1% ibu hamil di Kabupaten Donggala yang tidak mengkonsumsi TTD dan yang tidak menghabiskan TTD yang diberikan sebesar 28,1% sedangkan di Kabupaten Banggai terdapat 10,7% ibu hamil yang tidak mengkonsumsi TTD dan yang tidak menghabiskan TTD yang diberikan sebesar 27,2%. Adapun alasan ibu hamil tidak mengkonsumsi TTD antara lain karena ada rasa mual, muntah, mengantuk, pusing, bau tidak sedap serta tinja berwarna hitam.

Dengan menggunakan LILA ternyata ibu hamil yang menderita KEK di Kabupaten Donggala sebesar 22,5%.

Hasil analisa menunjukkan hubungan anemia dengan variable lain, sebagai berikut :

  1. Tidak ada hubungan yang bermakna antara status anemia dengan umur ibu hamil dengan nilai p value (0.949) > α (0.05).
  2. Tidak ada hubungan yang bermakna antara anemia dengan pendidikan ibu hamil dengan nilai p value (0.442) > α (0.05).
  3. Ada hubungan yang bermakna antara anemia dengan pemeriksaan kesehatan ibu hamil dengan nilai p value (0.004) < α (0.05). Hasil analisis didapatkan OR sebesar 0,158 dengan nilai lower 0,037 dan nilai upper 0,676.
  4. Ada hubungan antara status anemia ibu hamil dengan keikutsertaan ibu dalam mengikuti program KB dengan nilai p value (0.046) < α (0.05).
  5. Ada hubungan antara status anemia ibu hamil dengan ibu yang mengaku mengkonsumsi habis tablet Fe yang diberikan (90 tablet) dengan nilai p value (0.013) < α (0.05). Ibu hamil yang menghabiskan tablet Fe berpeluang mengalami anemia 0.414 kali (0.212 – 0.806) dibandingkan ibu hamil yang tidak habis mengkonsumsi tablet Fe.
  6. Tidak ada hubungan yang bermakna antara anemia dengan jumlah kehamilan ibu hamil dengan nilai p value (0.103) > α (0.05).
  7. Tidak ada hubungan yang bermakna antara anemia dengan LILA ibu hamil dengan nilai p value (0.108) > α (0.05).

Hasil survei cepat anemia gizi tahun 1996 prevalensi anemia gizi pada ibu hamil di Sulawesi Tengah adalah 69%, pada tahun 2001 menurun menjadi 64,2% namun pada tahun 2006 meningkat 9,1% menjadi 73,3%. Hal ini disebabkan karena TTD program (mengandung 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat yang selama ini diberikan kepada ibu hamil masih dalam dosis rendah (untuk pencegahan anemia) yaitu hanya        3 x 30 (90) tablet selama masa kehamilan.

Masih tingginya angka kemiskinan, pengaruh sosial budaya masyarakat terutama adanya pantangan makanan pada ibu hamil, pengetahuan yang kurang.  Strategi pencegahan dan penanggulangan anemia gizi :

1.    Jangka pendek

Dilaksanakan melalui suplementasi tablet tambah darah (TTD). Mulai tahun 2007 melalui APBD propinsi Sulawesi Tengah telah diupayakan pengadaan tablet tambah darah dosis tinggi (mengandung 300 mg besi femarat, 2 mg asam folat) namun masih dalam jumlah yang sangat terbatas.

2.    Jangka Panjang

a.    Peningkatan konsumsi makanan kaya zat besi
b.    KIE/pendidikan gizi melalui berbagai institusi terkait melalui media informasi lainnya.
c.    Mempersiapkan kondisi fisik wanita sebelum hamil agar siap menjadi ibu yang sehat.