Derajat Kesehatan Masyarakat

Gambaran tentang derajat kesehatan meliputi indikator mortalitas, morbiditas, dan status gizi. Mortalitas dilihat dari indikator Asngka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 Kelahiran Hidup, dan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Eo).

Morbiditas dilihat dari indikator-indikator Angka Kesakitan Malaria per 1.000 Penduduk, Angka Kesembuhan TB Paru BTA+, Prevalensi HIV (Persentase Kasus Terhadap Penduduk Berisiko), Angka Acute Flacid Paralysis (AFP) pada anak usia < 15 Tahun per 100.000 anak, dan Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 Penduduk. Sedangkan status gizi dilihat dari indikator Persentase Balita dengan Status Gizi di Bawah Garis Merah pada KMS dan Persentase Kecamatan Bebas Rawan Gizi.

Selain indikator tersebut diatas, disajikan pula beberapa indikator tambahan yang dianggap masih relevan yaitu Angka Harapan Hidup (Eo), dan Angka Kesakitan beberapa penyakit tertentu lainnya.

Angka Kematian

Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberi gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Tingkat kematian secara umum berhubungan erat dengan tingkat kesakitan, karena biasanya merupakan akumulasi akhir dari berbagai penyebab terjadinya kematian baik langsung maupun tidak langsung.

Salah satu alat untuk menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini adalah dengan melihat perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun. Besarnya tingkat kematian dan penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode terakhir dapat dilihat dari berbagai uraian berikut ini.

a. Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang sangat penting untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat. Faktor-faktor yang berkaitan dengan penyebab kematian bayi antara lain adalah tingkat pelayanan ante natal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA-KB, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Sulawesi Tengah telah menurun secara bermakna dari 150 per-1000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 52 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2002-2003, lebih tinggi dari angka nasionall yaitu 40 per 1.000 kelahiran hidup (Kajian Kematian Ibu dan Anak Badan Litbang Depkes RI) dan Sulawesi Tengah menempati urutan ke 5 tertinggi di Indonesia. Rata-rata perubahan per tahun selama kurun waktu 1990-2000 adalah -3,46% dan diperkirakan bahwa tahun 2010 AKB di Sulawesi Tengah akan menurun menjadi 41 per 1000 kelahiran hidup.

Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir tersebut memberi gambaran adanya peningkatan kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. Penurunan AKB tersebut antara lain disebabkan oleh peningkatan cakupan imunisasi bayi, peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan, penempatan bidan di desa. Menurut BPS angka kematian bayi diasumsikan menurun, yang diperkirakan pada periode 1995 – 2000 mencapai 62,98 per-1000 kelahiran hidup (KH) dan pada periode 2000-2005 mencapai 48,97 per-1000 KH.

AKB cenderung menurun, sebagai dampak dari hasil pelaksanaan pembangunan di segala bidang termasuk pemerataan pelayanan kesehatan sampai ke daerah-daerah terpencil, pemukiman baru dan daerah perbatasan serta ditunjang dengan program penempatan bidan di desa yang dimulai sejak tahun 1990. Pada tabel diatas juga terlihat bahwa angka kematian bayi menurut jenis kelamin pada semua periode pengukuran menunjukkan perbedaan, dimana angka kematian bayi pada bayi laki-laki tampaknya lebih tinggi dibandingkan pada bayi perempuan.

Dari Program (Subdin Binkesmas) di laporkan bahwa Angka Kematian Bayi tahun 2007 adalah sebesar 12,4 per-1000 KH (Facility Based) angka ini jauh lebih rendah dari angka survei SDKI (Comunity Based) sebesar 60 per 1000 kelahiran hidup, oleh karena itu pencatatan dan pelapora perlu lebih ditingkatkan lagi. Data yang dilaporkan lebih rinci menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada lampiran Tabel 6. Kabupaten/kota dengan angka kematian bayi tertinggi di Poso(25,7%0 KH), Tojo Una-una (21,9 %0 KH), sedangkan yang terendah adalah di Banggai Kepulauan (2,4%0 KH) dan Palu(3,8%0 KH).

b. Angka Kematian Neonatal (AKN) dan Angka Kematian Perinatal (AKP)
AKB dapat dirinci menurut kelompok umur yaitu kematian Neonatal (Kematian bayi umur < 1 bulan) dan kematian Post-Neonatal (Kematian Bayi umur 1-11 bulan). AKN di Sulawesi Tengah menurun dari 43,7 per 1000 KH pada tahun 1997 menjadi 24 per 1000 Khpada tahun 2002, namun masih diatas Angka Nasional (20). Rata-rata penurunan AKN selama tahun 1997 – 2002 adalah -12,0%.

Secara nasional rasio kematian AKP terhadap AKN adalah 0,75% (1994). Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi kematian Neonatal terhadap AKB lebih besar dari kontribusi kematian Post-Neonatal. Menurut SKRT tahun 2001 diantara kematian bayi yang tertinggi adalah gangguan Perinatal (34%) dan sebab kematian Neonatal tertinggi adalah Premature, BBLR dan Asfiksia (27%).

c. Angka Kematian Balita
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian anak umur 0-4 tahun per 1000 KH. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, dan penyakit infeksi.

Angka Kematian Balita (AKABA) menurut Sensus Penduduk (SP) di Sulawesi Tengah pada tahun 1980 sebesar 193 per-1000 KH turun menjadi 132 per-1000 KH pada tahun 1990 dan 83 per-1000 KH pada tahun 2000 dan menjadi 71 per-1000 KH (SDKI 2002-2003). Program melaporkan bahwa angka kematian Balita tahun 2007 dilaporakan 1,3 ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka survei SDKI yaitu sebesar 69 per 1000 KH target pada tahun 2010 diperkirakan AKABA di Sulawesi Tengah akan menurun menjadi 51 per-1000 KH. Hal ini diperkirakan karena meningkatnya akses terhadap pelayanan kesehatan

d. Angka Kematian Ibu Maternal
Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas. Angka kematian ibu maternal adalah jumlah kematian hamil + jumlah kematian ibu bersalin + jumlah kematian ibu nifas per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut sensus penduduk (SP) tahun 2000 AKI di Sulawesi Tengah sebesar 517 per 100.000 kelahiran hidup dan menempati urutan tertinggi ke 7 di Indonesia. AKI Nasional adalah 347 per 100.000 kelahiran hidup dan merupakan angka tertinggi diantara negara-negara ASEAN. Sedangkan dari program KIA dilaporkan pada tahun 2006, angka kematian ibu maternal adalah sebesar 311 per-100.000 KH dan turun menjadi 288,5 pada tahun 2007. Angka kematian ibu maternal menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada lampiran tabel 7.

e. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir
Meningkatnya umur harapan hidup (Eo) waktu lahir, sekaligus memberikan gambaran kepada kita bahwa salah satu penyebabnya adalah karena meningkatnya kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Angka harapan hidup waktu lahir di Sulawesi Tengah cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Hal ini seiring dengan adanya asumsi kecenderungan angka kematian bayi yang menurun serta perubahan komposisi penduduk (penurunan kelompok umur usia muda dan peningkatan kelompok umur usia tua) pada tahun 1990 umur harapan hidup rata-rata 57,47 dan meningkat pada tahun 2000 menjadi 61,0 dan meningkat menjadi 63,3 pada tahun 2003 dan pada tahun 2004 menjadi 64,6 dan 65,4 pada tahun 2005 dan meningkat lagi menjadi 66,3 pada tahun 2007.

Meningkatnya umur harapan hidup ini secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya kemungkinan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan dalam masyarakat sehingga dapat menurunkan angka kematian peningkatan kualitas hidup dan kesehatan dalam masyarakat sehingga dapat menurunkan angka kematian.

f. Angka Kematian Kasar.
Angka Kematian Kasar (AKK) menurut data dari BPS (Statistik Lingkungan Hidup tahun 2000) diperoleh data AKK Sulawesi Tengah tahun 1998, 1999 dan 2000 adalah sama yaitu sebesar 7 per 1000 penduduk, sementara AKK tahun 2004 belum tersedia datanya.

Angka Kesakitan

Angka kesakitan penduduk Sulawesi Tengah di dapat dari data yang berasal dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Dari data pasien rawat jalan di Rumah Sakit selama tahun 2007 diperoleh gambaran/pola sepuluh penyakit terbanyak dimana penyakit Diabetes YTT menempati ranking teratas (terbanyak) kemudian Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan Gangguan Daya Lihat. Sedangkan yang terendah adalah penyakit telinga dan proseus mastoid.
Dari data pasien rawat inap di rumah sakit selama tahun 2007 diperoleh gambaran/pola sepuluh besar penyakit terbanyak dimana ranking teratas (terbanyak) adalah penyakit Diare dan gastroenteritis, kemudian Demam Berdarah Dengue dan Malaria, sedangkan yang terendahadalah Skizoprenia, gangguan skizotipal, psikotik akut. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.5 diatas.

Selain dari data sepuluh besar penyakit rawat jalan dan rawat inap di RSU juga juga diperoleh data sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas selama tahun 2007 seperti tabel 3.6 berikut ini.

Dari laporan sepuluh besar penyakit terbanyak tersebut diatas baik rawat jalan maupun rawat inap di RS dan di Puskesmas ternyata penyakit ISPA dan Diare menempati urutan teratas (kasus terbanyak) oleh karena itu kesehatan lingkungan perlu di tingkatkan.

Untuk melengkapi gambaran pola penyakit di Sulawesi Tengah, berikut ini disajikan gambaran Morbiditas yang didasarkan data dari kabupaten/kota dan dari masing-masing program di propinsi.

a. Penyakit Malaria
Untuk menggambarkan angka kesakitan, disajikan beberapa angka prevalensi dan insiden dari beberapa penyakit antara lain penyakit Malaria, Demam Berdarah Dengue, Campak, penyakit Zoonotik, AIDS dan HIV, dan penyakit Diare.

Pada tahun 2007 tercatat kasus malaria positif sejumlah 9.379 kasus dengan angka kesakitan 3,91 kasus per 1.000 penduduk, terjadi sedikit lebih rendah bila dibandingkan pada tahun 2006 yaitu 3,99.

Dari program dilaporkan bahwa pada tahun 2007 terjadi KLB dengan jumlah penderita 209 (penduduk terancam 18.271), tanpa ada kematian dengan Attack Rate 1,14% dan CFR 0%.

b. Penyakit TB Paru.
Sulawesi tengah merupakan daerah ujicoba P2 TB-Paru terpadu, sehinggapemberantasan Penyakit TB-Paru terpadu telah dilaksanakan di semua Puskesmas. Prevalensi penyakit Tuberkulosis (TB) Paru belum diketahui secara pasti. Data terakhir yang diperoleh dari kabupaten/kota adalah jumlah kasus BTA+ yang diobati dan angka kesembuhannya. Pada tahun 2007 jumlah kasus baru BTA positif yang ditemukan sebesar 1.954 orang dan angka kesembuhan tahun 2006 sebesar 86,46%. Dari Program dilaporkan bahwa jumlah kematian penyakit TB Paru adalah 38 kasus dan menempati peringkat kedua teratas penyebab kematian di Rumah Sakit.

c. HIV/AIDS dan Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual (PMS).
Kasus penyakit HIV di Sulawesi Tengah telah ditemukan pada tahun 2002 yaitu sebanyak 3 kasus semuanya di kota Palu dan pada tahun 2007 sudah terdapat 63 kasus yang menyebar di 8 kabupaten/kota (Lihat tabel 10) dengan kasus terbanyak di kota Palu 34 kasus dan terendah di kabupaten Poso 1 kasus. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko penyebaran HIV/AIDS.

Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es (iceberg phenomena), yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah penderita yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Sulawesi Tengah yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti.

d. Acute Flaccid Paralysis.
Kasus Acute Paralysis (AFP) yang ada di masyarakat Sulawesi Tengah pada tahun 2007 oleh program dilaporkan bahwa selama tahun 2007 terdapat kasus sebanyak 17 yang tersebar 7 kabupaten/kota, kausu terbanyak terjadi di kabupaten Parigi Moutong dan Kota Palu masing-masing 4 kasus.

e. Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD mulai ditemukan di Sulawesi Tengah sejak tahun 1992 dengan kasus suspect DBD sebanyak 8 orang, pada tahun 1993 meningkat menjadi 17 orang dan meningkat lagi menjadi 44 orang pada tahun 1994. Mulai tahun 1996, keadaan di Sulawesi Tengah cukup memprihatinkan karena dari 50 kasus suspect ditemukan 16 penderita yang positif DBD dan terjadi kematian pada 4 penderita (CFR = 25 %).

Pada tahun 2007 jumlah kasus yang dilaporkan sejumlah 1.336 0rang dari 8 kabupaten/kota (Banggai, Morowali, Poso, Dongala, Tolitoli, Parigi Moutong, Buol dan Kota Palu) sedang pada kabupaten lainnya tidak ditemukan kasus. Angka kesakitan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah 55,75per 100.000. Pada tahun 2007 terjadi KLB dengan jumlah penderita sebanyak 675 kasus, jumlah penduduk terancam 59.192 dengan kematian 19 orang , Attack Rate 1,14% dan CFR 2,81%.

f. Penyakit Pneumonia
Penyakit Pneumonia merupakan penyakit yang harus diperhatikan secara serius mengingat tingginya kematian dan kesakitan penyakit ini terutama pada balita. Angka kesakitan penyakit Pneumonia masih cukup tinggi, berdasarkan laporan Surveilans Terpadu penyakit berbasis Puskesmas tahun 2007 diperoleh data jumlah kunjungan Penyakit Pneumonia adalah sebanyak 13.466 kunjungan Balita dan menempati urutan ke 8 penyebab kematian (11 kematian) dari 10 penyakit penyebab kematian yang dilaporkan.

Hasil pengumpulan data profil kesehatan kabupaten/kota selama tahun 2007, jumlah penderita balita adalah sebesar 13.466 orang. Kabupaten kota dengan balita penderitaa pneumonia terbanyak adalah di Donggala (3.393, Palu (2.507) dan Banggai (2.478). sedangkan yang terendah adalah di Tojo Unauna (169), dan Poso (498).

g. Penyakit Diare
Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Sulawesi Tengah dan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Hasil pengumpulan data dari kabupaten/kota selama tahun 2007 jumlah kasus penyakit Diare pada Baklita yang ditemukan di sarana kesehatan adalah sejumlah 23.666 penderita dengan angka kesakitan penyakit Diare 20,38 per 1.000 penduduk. Angka ini mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu 18, per 1.000 penduduk.

Pada tahun 2007 terjadi KLB Diare yang tersebar di 15 kecamatan dengan total penderita 715 orang dan kematian 35 orang (CFR 4,9%). Diare merupakan penyakit yang harus diwaspadai, artinya penanganan yang tepat di RS dan sarana pelayanan kesehatan lainnya seperti Puskesmas dan lain-lain, sangat penting peranannnya dalam mencegah kematian akibat Diare.

h. Penyakit Rabies
Penyakit Zoonotik terutama Rabies sering terjadi, merupakan salah satu penyakit yang ditularkan binatang melalui gigitan anjing atau hewan lain seperti anjing dan kera (binatang piaraan). Pada umumnya penyakit ini memiliki risiko kematian yang sangat tinggi terhadap manusia bila tidak dilakukan pencegahan sedini mungkin terhadap kasus gigitan, karena bila terlambat penanganannya hingga timbul gejala penyakit, maka angka kefatalannya (CFR) bisa mencapai 100 0/0 .

Kasus penyakit rabies di Sulawesi Tengah pada tahun 2006 adalah 95 kasus yang tersebar di 2 kabupaten yang dilaporkan oleh Program PPM & PL, jumlah kematian 12 orang (CFR 12,63%)

i. Penyakit Kusta
Prevalensi Kusta di Sulawesi Tengah cenderung menurun setiap tahun . Pada tahun 1990 prevalensi kusta 1,2%0 dan menurun pada tahun 1998 menjadi 0,33%O dan 0,22 o/oo pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menjadi 0,17 %0.

j. Penyakit Filariasis
Filariasis (penyakit kaki gajah) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Sulawesi Tengah. Akibat dari serangan penyakit adalah menurunkan derajat kesehatan masyarakat karena menurunnya daya kerja dan produktivitas serta timbulnya cacat anggota tubuh yang menetap. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, beberapa jenis nyamuk diketahui berperan sebagai vektor Filariasis antara lain Mansonia, Anopheles, dan Culex.

Pada tahun 1997 rata-rata Mikrofilaria Rate dari daerah-daerah yang disurvei sebesar 5,04% sedangkan pada tahun 1998 menurun menjadi 4,25%. Pada desa-desa yang MF Rate nya >2% dilaksanakan pengobatan masal dengan garam DEC. Dengan adanya strategi pengobatan dengan garam DEC, maka diharapkan suatu saat penyakit ini dapat tereleminir dari Sulawesi Tengah. Pada tahun 2006 di Sulawesi Tengah terdapat penderita Filariasis sebanyak 764 orang dan yang ditangani 269 orang (35%).

k. Penyakit Schistosomiasis
Penyakit Schistosomiasis merupakan penyakit yang hanya ada di Sulawesi Tengah yaitu disekitar Danau Lindu dan Lembah Napu. Penyakit ini di tularkan melalui vektor keong Oncomelania Hupensis Linduensis yang merupakan hospes perantara Cacing Trematoda yang menyebabkan penyakit Schistosomiasis yaitu Schistosoma Japanicum. Kegiatan pemberantasannya secara intensif telah dimulai sejak tahun 1982, yang pada awalnya dititik beratkan pada kegiatan penanganan terhadap manusianya yakni pengobatan penduduk secara masal yang ditunjang dengan kegiatan penyuluhan, pengadaan sarana kesehatan lingkungan, pemeriksaan tinja penduduk, pemeriksaan keong penular dan tikus secara berkala dan rutin. Target pemberantasan penyakit ini adalah menurunkan prevalensi sampai < 1%.

Keadaan pada tahun 1998/1999, di daerah Lindu prevalensi pada siklus I 0,68% dan siklus II 0,44%, sedangkan di Napu prevalensi pada siklus I 0,72% dan pada siklus II 0,81%. Pemberantasan penyakit ini dilaksanakan secara lintas program dan lintas sektor untuk pengembangan wilayah endemis Schistosomiasis. Pada tahun 2007 menurut laporan dari Subdin P2PL Prevalensi schistosomiasis di daerah Lindu cyclus I adalah 1,40 dan cyclus II tidak ada data sementara di daerah Napu cyclus I adalah 1,14 dan cyclus II 1,84.

l. Penyakit Menular Lainnya.
Beberapa penyakit menular lain yang perlu diwaspadai adalah penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, yaitu Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri, Pertusis dan Hepatitis.
1). Tetanus Neonatorum.
Pada tahun 2007 berdasarkan laporan KLB kasus Tetanus Neonatorum yang ditemukan sebanyak 4 kasus yang tersebar di 4 desa dan meninggal 3 orang (CFR 75%). Dari jumlah kasus tersebut diadakan pelacakan penderita namun hasilnya belum diketahui.

Dari hasil pelacakan kasus Tetanus Neonatorum tahun sebelumnya rata-rata tidak di imunisasi TT Ibu Hamil dan juga pertolongan persalinannya oleh dukun tidak terlatih dan masih tingginya kepercayaan melahirkan dengan pertolongan dukun, sehingga diperkirakan kasus pada tahun 2007 masih terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari kasus di atas menunjukkan bahwa perlu dilaksanakannya pembekalan pada tenaga bidan yang akan ditempatkan di desa. Setiap kasus penderita Tetahus Neonatorum semuanya terjadi kematian (CFR : 75-100%), ini diduga karena masih tingginya kepercayaan masyarakat kepada dukun.

2). Campak
Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Selama tahun 2007 frekuensi KLB Campak menempati urutan kedua, setelah KLB Diare. KLB Campak selama tahun 2007 terjadi sebanyak 10 kali yang tersebar di 9 kecamatan dengan jumlah kasus sebanyak 482 dan 2 kematian (CFR : 0,41%)

m. Penyakit Tidak Menular
Arus globalisasi di segala bidang semakin meningkat dan telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat termasuk dalam pola konsumsi makanan. Tanpa disadari perubahan tersebut telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular seperti penyakit Jantung, Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal dan sebagainya.
Dari program dilaporkan bahwa jumlah penderita rawat jalan di RS penyakit Diabetes dan Hipertensi, menempati urutan 1 dan 5 dari 10 besar penyakit terbanyak tetapi tidak termasuk dalam 10 besar penyakit rawat inap, sedangkan jantung, Tumor, dan gagal ginjal tidak masuk pada 10 besar penyakit baik rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit.

Status Gizi

Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan individu, karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi, juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan, bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang masih menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil dan ibu menyusui.

Status gizi masyarakat dapat diukur melalui indikator-indikator yaitu status gizi bayi yang diukur dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), sebagaimana diuraikan berikut ini.
a. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
Secara umum, Propinsi Sulawesi Tengah belum mempunyai angka untuk BBLR yang diperoleh berdasarkan survei. Pada tahun 2007 proporsi BBLR diketahui berdasarkan laporan dari program yang melaporkan kasus BBLR dengan jumlah 537 kasus dan yang ditangani 439 (81,75%). Gambaran kasus BBLR dari kab/kota disajikan pada lampiran Tabel 15.

b. Gizi Balita
Dari hasil pemantauan status gizi (PSG) selama tahun 2007 dari 30.817 Balita yang di ukur terlihat bahwa 1.624 (5,3%) yang mengalami gizi buruk, 6.241 (20,3%) gizi kurang, 21.234 (68,9%) gizi baik dan 615 (2%) balita yang mempunyai gizi lebih.

c. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
Prevalensi GAKY di Provinsi Sulawesi Tengah selama kurun waktu 5 tahun terakhir telah mengalami penurunan sebesar 34 % dari keadaan sebelumnya yaitu 16,5% pada tahun 1998 menjadi 10,8% pada tahun 2003, sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan angka rata-rata nasional yaitu 11%. Pada tahun 2007 belum terseda data mengenai GAKY.

Walaupun secara provinsi terjadi penurunan prevalensi GAKY, namun keadaan ini belum merata untuk semua kabupaten, seperti terlihat pada tabel diatas, penurunan prevalensi GAKY tidak terjadi di kabupaten Poso, malahan cenderung meningkat dari keadaan sebelumnya yaitu dari 21,77% menjadi 27,1%.